PALU, FOKUSRAKYAT.NET — Proyek Dinding Penahan Tanah atau Talud di Sungai Ngia, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik yang cukup memprihatinkan.
Sejumlah pihak menilai kerusakan ini, akibat rendahnya mutu bangunan Talud Sungai tersebut.
Pantauan media ini beberapa hari lalu, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Ngia, dimana terlihat tembok dinding penahan tanah atau revetment itu, banyak coretan Pylox berwarna merah menandakan tembok tersebut kropos dan retak.

Selain itu, juga tulisan angka yang bervariasi yang menunjukan ketinggian tembok tersebut, disorot karena adanya dugaan pengurangan volume.
Dari tulisan angka – angka yang terlihat dibagian tertentu tembok penahan tanah Sungai Ngia itu, memperlihatkan adanya perbedaan ketinggian tembok di setiap bagiannya, alias tembok dinding tidak merata ketinggiannya.
Tak hanya itu, di beberapa titik bagian dinding tembok tersebut juga mengalami retakan bahkan ada yang sudah patah.

Salah satu pihak yang menanggapi hal tersebut yakni Ketua Front Pemuda Peduli Daerah (FPPD) Sulawesi Tengah, Eko Arianto, kepada tim media ini, Selasa (3/6/2025) menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi fisik dinding penahan tanah Sungai Ngia yang terlihat berpori dan kropos serta mengalami patahan di beberapa titik, padahal proyek ini belum lama selesai dibangun.
“Fakta ini menunjukkan indikasi kuat rendahnya mutu beton yang digunakan oleh pihak pelaksana proyek tersebut,” tegas Eko Arianto.
Ia mengatakan, kualitas infrastruktur yang buruk seperti ini berpotensi besar merugikan daerah, baik dari sisi keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai maupun dari aspek keuangan negara, karena akan memerlukan perbaikan atau pembangunan ulang dalam waktu dekat.
“Ini jelas-jelas bentuk pemborosan anggaran dan tidak mencerminkan prinsip tata kelola proyek yang transparan dan akuntabel,” katanya.

FPPD mendesak pihak-pihak terkait, terutama instansi teknis dan aparat penegak hukum, untuk segera melakukan audit teknis dan investigasi mendalam terhadap proyek ini.
Seperti diketahui, bahwa pembangunan dinding penahan tanah Sugai Ngia tersebut dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Selaras Mandiri Sejahtera (SMS) dengan nama pekerjaan Perbaikan Sungai di Wilayah Kota Palu (Hilir Palu Mempertimbangkan Tindakan Penanggulangan Tsunami,Kawatuna, Sungai Ngia).
Paket pekerjaan tersebut bernilai Rp.150.997.000.000, dengan nomor kontrak HK 0201-Bws13.7.1/404. Proyek ini bersumber dari dana PHLN LOAN JICA IP – 580, tahun anggaran 2023 – 2024 dalam waktu pelaksanaan 517 hari kalender. Waktu pengerjaan proyek ini telah diperpanjang hingga Agustus 2025.
Proyek ini melekat pada Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air WS. Palu – Lariang, WS. Parigi – Poso, WS. Kaluku – Karama Provinsi Sulawesi Tengah, dibawah Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu (BWSS III Palu), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU.

PT. SMS Akui Tembok Dinding Penahan Tanah Sungai Ngia ada yang Kropos.
Projeck Manager (PM) PT SMS, Anang Widodo, ST, mengatakan pekerjaan Sungai Ngia kini telah dilakukan Pra Provisional Hand Over (PHO) sebelum hasil akhir pekerjaan.
“Pylox merah di beberapa titik beton dinding penahan tanah Sungai Ngia itu baru pra PHO, hasil dari koreksi itu kemudian kita lakukan perbaikan baru dilakukan PHO,” jelas Anang kepada sejumlah media saat di temui di kantor direksi keet PT SMS di Kelurahan Lere, Palu Barat, belum lama ini.
Namun Anang juga mengakui adanya beberapa titik pada tembok revetment Sungai Ngia yang berpori dan kropos. Hal ini dipengaruhi lemahnya vibrator.
“Beton kita pake K – 175, kemudian kalau terjadi berpori itu karena metode kerjanya. Itu kelemahannya di Vibrator,” jelasnya.
“Kalau untuk Siklop, kelemahannya kan itu dia tercampur dengan batu pondasi, itu seringkali terjadi di dindinya itu tidak tembus dengan vibrator,” tambahnya.
Menurutnya, metode kerja yang dilakukan sudah sesuai, hanya saja kata dia penggunaan vibrator yang kurang maksimal, sehingga menyebabkan beton kropos.
“Untuk perbaikannya dibongkar dulu. Kemudian yang digunakan bukan semen biasa, kita menggunakan semen MU 200,” terangnya.































