Donggala – Proyek peningkatan jalan dalam Kota Donggala yang menelan anggaran miliaran rupiah kini menjadi sorotan publik.
Pasalnya, hasil pekerjaan yang baru berusia setahun sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius, baik pada badan jalan maupun rabat beton bahu jalan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan aspal, tetapi juga pada rabat beton di bahu jalan.
Di sejumlah titik, beton terlihat terkelupas dan bahkan mudah hancur, meski umur pekerjaan diperkirakan baru sekitar setahun.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya kegagalan struktur perkerasan.

Sejumlah faktor teknis diduga menjadi penyebab, mulai dari campuran beton yang diduga tidak sesuai spesifikasi. Seperti kelebihan pasir atau kekurangan semen. Hingga ketebalan beton yang tidak merata atau terlalu tipis.
Selain itu, minimnya pengawasan selama proses konstruksi juga dinilai berpotensi memperparah kualitas pekerjaan.

Kerusakan cepat pada infrastruktur yang baru selesai dikerjakan kerap menjadi indikator lemahnya pengendalian mutu di lapangan.
Hal ini semakin menguatkan tanda tanya publik terhadap kualitas proyek tersebut.
Tak hanya rabat beton, kondisi badan jalan juga memprihatinkan.
Di ruas jalan dalam Kota Donggala, tepatnya dari Kelurahan Boya, Maleni hingga Ganti, ditemukan sejumlah titik aspal yang sudah retak dan berlubang.
Padahal, pekerjaan tersebut diduga baru selesai masa pemeliharaan pada akhir Desember 2025.
Secara teknis, proyek peningkatan jalan seharusnya mampu bertahan dalam jangka waktu lama apabila dikerjakan sesuai spesifikasi.
Namun, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat menimbulkan dugaan adanya persoalan kualitas, seperti mutu aspal yang kurang baik, fondasi agregat yang tidak padat, hingga metode pengerjaan yang tidak maksimal.
Berdasarkan fakta di lapangan, sudah ada upaya perbaikan (patching) pada bagian jalan yang rusak.
Perbaikan dilakukan melalui tahapan teknis seperti pembersihan lubang.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Donggala, Anjas Budi Setiawan, menyatakan bahwa pekerjaan yang dimaksud merupakan paket Tahun Anggaran 2024, bukan 2025.
“Tabe le, hanya saya mau info paket 2025 jalan dalam kota Donggala Rp14,88 miliar kondisi bagus, tidak ada cacat fisik dan mutu pekerjaan. Foto yang komiu kasih ke saya pekerjaan T.A 2024 itu,” jelasnya.
Sementara itu, pihak kontraktor pelaksana, Theo Toding, memastikan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi.
Ia menyebut pengujian teknis, termasuk core drill, telah dilakukan bersama pihak terkait.
“Untuk pekerjaan aspal dapat kami pastikan sudah sesuai spesifikasi. JMD dan JMF lengkap dan sudah ada hasil core drill bersama BPK dan tidak ada yang tidak sesuai,” ujarnya.
Theo juga menjelaskan bahwa kerusakan dapat dipicu oleh faktor eksternal, seperti genangan air dan beban kendaraan yang melebihi kapasitas jalan.
Terkait rabat beton bahu jalan, ia mengakui bahwa mutu beton yang digunakan adalah fc’15 yang tergolong rendah.
“Retakan kemungkinan besar terjadi karena genangan air dan kendaraan berat yang sering melintas,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa metode pemilihan penyedia dilakukan melalui proses tender atau lelang, bukan e-purchasing, serta masa pemeliharaan proyek telah berakhir.
Diketahui, selain proyek peningkatan jalan bernilai miliaran rupiah tersebut, terdapat beberapa paket pekerjaan lain di ruas jalan dalam Kota Donggala, di antaranya paket perbaikan jalan senilai sekitar Rp1,5 miliar yang dikerjakan PT Ahnaf Pratama Sejahtera, serta paket peningkatan jalan Kecamatan Banawa senilai sekitar Rp4 miliar oleh CV Karya Adhiguna Lestari.
Menanggapi kondisi ini, advokat rakyat dari Lembaga Bantuan Hukum Rakyat (LBH-R), Agussalim, S.H., mendesak aparat penegak hukum untuk turun tangan melakukan penyelidikan terhadap kualitas pekerjaan konstruksi tersebut.
“Ini perlu ditelusuri lebih jauh. Jangan sampai anggaran besar tidak sebanding dengan kualitas hasil pekerjaan yang dinikmati masyarakat,” tegasnya. (LAPORAN : TIM REDAKSI)



































