KAPOLDA
Daerah  

PEMDA PARIMO DIULTIMATUM! Mahasiswa Geruduk Kantor Gubernur: Hentikan PETI atau Kami Turun Lebih Besar

PARIMO
Puluhan massa dari Forum Mahasiswa Kabupaten Parigi Moutong (FMKPM) menggeruduk Kantor Gubernur Sulawesi Tengah. FOTO : ANJASMAN/REDAKSI.

PALU, Fokusrakyat.net — Amarah mahasiswa Parigi Moutong memuncak! Puluhan massa dari Forum Mahasiswa Kabupaten Parigi Moutong (FMKPM) menggeruduk Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (11/8), membawa pesan tegas: “Selamatkan Parigi Moutong, Hentikan PETI Sekarang!”

Aksi ini menjadi simbol ketidakpercayaan total terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Parigi Moutong (Pemda Parimo), yang dinilai gagal memberantas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan membiarkan krisis infrastruktur pendidikan dan kesehatan merajalela.

BACA JUGA : Diduga Gagal Tender Bangunan Tetap Berdiri, Misteri Pembangunan Dapur Sehat Makan Bergizi Gratis di Morowali

BACA JUGA : Cemburu Membabi Buta, Suami Bakar Istri Hidup-Hidup di Palu

FMKPM membacakan enam tuntutan keras:

1. Tutup total PETI di seluruh wilayah Parimo.

2. Tangkap semua oknum pelindung PETI.

3. Pendidikan harus berkeadilan dan merata.

4. Sejahterakan petani dan nelayan yang kini terjepit.

5. Buka lapangan pekerjaan yang merata.

6. Bangun infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang layak.

Mahasiswa Kecamatan Taopa menuding pemerintah “tutup mata” terhadap kerusakan lingkungan.

Ini bukan sekadar soal izin tambang.

PETI telah merusak lahan pangan, mencemari laut, dan mengancam nyawa warga. Di Taopa, tambang ilegal seperti kebal hukum.

Fasilitas kesehatan minim, rawat inap pun tak layak. Apa pemerintah menunggu korban jiwa dulu?” tegasnya.

BACA JUGA : Pembangunan Puskesmas Talise Tahap I Senilai Rp4,7 Miliar Disorot, Kadis Kesehatan Palu Lempar Tanggung Jawab Klarifikasi Teknis

BACA JUGA : Pembangunan Pasar Bahodopi Sarat Masalah, Pengawasan Diduga Longgar

Kritik pedas juga datang dari mahasiswa Kecamatan Tomini yang menyentil program pembagian seragam gratis.

“Anak-anak SD dapat baju baru, tapi belajar sambil berdiri karena ruang kelas ambruk. Itu bukan solusi, itu penghinaan terhadap pendidikan!” katanya lantang.

Gubernur Turunkan Ultimatum

Menanggapi desakan itu, Gubernur Sulawesi Tengah mengaku mendukung penuh tuntutan mahasiswa.

Ia mengklaim sudah menghentikan tiga Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kayu Boko dan menyita dua alat berat di Lambunu.

Ia bahkan memberi tenggat 100 hari kerja kepada Pemda Parimo untuk memberantas PETI, sekaligus membentuk Satgas anti-tambang ilegal.

“Saya tidak akan diam. Pemerintah dan rakyat punya misi yang sama: hentikan PETI. Mahasiswa harus terus bersuara. Kita perangi ini bersama-sama,” tegasnya.

Meski begitu, massa aksi menegaskan, janji tanpa tindakan hanyalah omong kosong.

Mereka siap mengerahkan massa yang lebih besar jika 100 hari berlalu tanpa perubahan nyata di Parigi Moutong.


 

HPN HPN HPN HPN HPN HPN
pasang iklan HPN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!