PALU – Dalam dunia jurnalistik yang penuh sorotan kamera dan headline mengejutkan, ada sosok yang memilih diam di balik layar, namun tetap berani menegakkan presisi: Anjasman, wartawan dan editor naskah dari media FokusRakyat.net.
Bukan karena takut tampil. Tapi karena ia percaya bahwa kekuatan berita lahir dari kesunyian, dari kerja-kerja intelektual yang tak tampak di permukaan: menyunting naskah, menata kata, dan menjaga akurasi.
“Saya memilih menjadi editor karena saya percaya, kualitas berita ditentukan sejak dari kata pertama yang ditulis,” ujar Anjasman, yang dikenal sebagai sosok formal, tegas, dan penuh integritas.
Bagi Anjasman, waktu luang bukan untuk bersantai, melainkan ruang belajar tanpa batas.
BACA JUGA : Komisi III DPR RI Apresiasi Kinerja Polda Sulteng Dukung Ketahanan Pangan Asta Cita Presiden
Di sanalah ia mengasah kemampuannya menyusun kalimat-kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tapi juga penuh tanggung jawab jurnalistik.
Berani Bicara Kebenaran, Meski dari Balik Layar
Inspirasi Anjasman datang dari figur seperti Najwa Shihab—seorang jurnalis yang dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tapi karena keberanian dan kejujurannya.
“Saya belajar dari Mbak Nana. Jurnalisme sejati bukan hanya soal apa yang kita lihat, tapi tentang menjadi mata bagi yang tak terlihat dan suara bagi yang tak terdengar,” tuturnya.
BACA JUGA : Warga Desa Rarampadende Menjerit: Harga Beras Tembus Rp18 Ribu, Hidup Makin Terjepit
BACA JUGA : Suami Pelaku KDRT di Luwuk Akui Kesalahan, Bhabinkamtibmas Fasilitasi Perdamaian Pasutri
Ketika menangani berita-berita krusial, terutama soal korupsi, konflik sosial, dan ketimpangan, Anjasman selalu memastikan setiap naskah berdiri di atas fakta dan nilai etika. Ia tahu, di situlah jantung jurnalisme berdetak.
Presisi Adalah Pilihan Hidup
Bekerja sebagai wartawan di FokusRakyat.net, Anjasman telah memantapkan dirinya sebagai “penjaga kualitas naskah”. Gaya penulisannya formal dan lugas, tapi tetap menyimpan kehangatan empati bagi korban dan publik pembaca.
“Setiap kalimat membawa tanggung jawab. Setiap berita harus bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar enak dibaca,” ujarnya serius.
Anjasman bukan pemburu popularitas. Cita-citanya sederhana namun mendalam: dikenal dan disegani di dunia jurnalistik tanpa menggadaikan integritas.
“Saya tahu jalan ini panjang. Tapi saya percaya pada langkah-langkah kecil yang konsisten. Tampil bukan soal di depan kamera—tapi tentang bagaimana kita menjaga nama baik profesi ini,” pungkasnya.
Menjadi Jurnalis Presisi di Era Kebisingan
Di tengah era digital yang penuh hoaks dan kecepatan semu, Anjasman hadir sebagai pengingat bahwa jurnalisme sejati bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tepat.
Dan meski ia memilih berada di balik layar, keberanian dan presisi yang ia bangun menjadikan namanya tak bisa diabaikan dalam peta jurnalisme lokal Sulawesi Tengah.































