SIGI – Keresahan mendalam dirasakan warga Desa Rarampadende, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, menyusul kenaikan drastis harga beras yang kini menembus angka Rp18.000 per kilogram. Kenaikan ini memperberat beban ekonomi masyarakat yang sebelumnya telah dihimpit oleh mahalnya harga kebutuhan pokok lainnya.
Di tengah situasi ini, suara warga seperti Sri Weni, seorang ibu rumah tangga setempat, menjadi potret nyata kegelisahan masyarakat desa yang tak lagi sekadar mencari lauk, tetapi berjuang demi sebutir nasi.
“Ikan mahal? Gak apa, masih bisa diganti tempe. Telur naik? Yaudah, tahu pun jadi. Tapi kalau sudah nyentuh ke beras… itu bukan bahan makanan biasa, itu sumber kekuatan!” ucap Sri Weni, dengan mata yang tampak lelah namun penuh keteguhan kepada wartawan media ini.
BACA JUGA : Suami Pelaku KDRT di Luwuk Akui Kesalahan, Bhabinkamtibmas Fasilitasi Perdamaian Pasutri
BACA JUGA : IRT di Banggai Ditangkap karena Edarkan Sabu, Polisi Temukan Uang Tunai dan Alat Bukti Lain
Imbauan untuk mengganti nasi dengan karbohidrat alternatif seperti singkong, ubi, atau jagung dinilai tidak realistis.
Bagi warga seperti Sri, nasi bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari budaya dan kehidupan.
“Kami dari kecil sudah makan nasi. Masa tiba-tiba disuruh ganti karbo kayak ganti saluran tipi?” keluhnya getir.
Ironisnya, kenaikan harga ini tak diiringi peningkatan pendapatan masyarakat. Sebaliknya, harga minyak goreng, telur, hingga sayur-mayur juga terus naik, membuat daya beli warga kian melemah.
BACA JUGA : Kasus Investasi Bodong OMC Masuk Tahap Penyidikan, Polda Sulteng Periksa 15 Leader
BACA JUGA : Buron Tujuh Bulan, Pelaku Penipuan Tukar Tambah Mobil Dibekuk Resmob Tojo Una-Una
“Dulu seratus ribu bisa belanja buat seminggu. Sekarang? Pulang dari warung cuma bawa keresek setengah isi,” lanjutnya.
Tekanan ekonomi membuat warga Desa Rarampadende tak lagi memikirkan menu harian, melainkan sekadar cara untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
“Kami bukan makan nasi lagi… tapi makan sabar sama tahan napas,” tutup Sri, dengan nada pasrah namun tetap berharap.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah mengenai strategi konkrit untuk menahan laju harga beras.
Sementara itu, warga Desa Rarampadende dan masyarakat pelosok lainnya terus menunggu—bukan bantuan instan, tapi keadilan harga yang bisa membuat mereka tetap hidup layak di tanah sendiri.

































