FOKUSRAKYAT.NET, MOILONG — Setelah melalui proses konstruksi selama kurang lebih 210 hari kalender sejak Februari 2025.
Proyek strategis pembangunan Bendungan Bifurkasi di Kecamatan Moilong, Kabupaten Banggai akhirnya rampung.
Proyek ini dikerjakan oleh PT. Nurman Abadi dan berada di bawah pengawasan langsung Dinas Cipta Karya, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang (Cikasda) Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurut Kepala Bidang Sungai, Pantai, Danau, dan Air Baku Cikasda Sulteng, Ir. Djaenudin, ST, SE, MM, bendungan ini akan menjadi tumpuan utama dalam mendukung sistem irigasi pertanian serta pengendalian banjir.
BACA JUGA : Sidang Kasus Korupsi Dana Desa Lempe, Kuasa Hukum Soroti Dugaan Ketidakadilan Penetapan Tersangka
“Bendungan bifurkasi sangat vital, terutama untuk menyuplai air bagi sekitar 4.450 hektar lahan pertanian di Daerah Irigasi (DI) Moilong dan Toili,” ungkap Djaenudin.
Manfaat Ganda untuk Petani dan Masyarakat
Tak hanya sebagai sarana irigasi, bendungan ini juga dirancang untuk mengendalikan banjir musiman yang kerap melanda Kecamatan Moilong dan Toili.
Proyek ini merupakan bagian dari program pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah provinsi dalam mendukung sektor pangan dan kesejahteraan petani.
Tegaskan Komitmen terhadap Keselamatan dan Transparansi
Terkait isu keselamatan kerja, Djaenudin menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) secara ketat.
Seluruh pekerja dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) dan dilatih untuk bekerja sesuai prosedur keselamatan.
“Selama pekerjaan berlangsung, tidak ada satu pun kecelakaan kerja yang terjadi. Ini menunjukkan sistem keselamatan telah berjalan dengan baik,” jelasnya.

Namun, ia menyayangkan insiden tragis yang terjadi di area konstruksi setelah proyek selesai, di mana seorang remaja dilaporkan meninggal dunia.
Menurut Djaenudin, korban dan dua temannya sudah dilarang masuk oleh pekerja karena lokasi masih dianggap berisiko.
BACA JUGA : Kerusakan Retakan di Sejumlah Bangunan Proyek Jalan Cumi-Cumi Palu, Mutu Kualitas Pekerjaan Dipertanyakan?
“Tanda larangan sudah jelas dipasang, dan para pekerja sudah menegur langsung. Kasus ini pun sudah ditangani oleh Polsek Toili,” tegasnya.
Kritik Diterima, Tapi Harus Berimbang
Meskipun proyek ini telah memberikan dampak positif, Djaenudin mengaku prihatin terhadap isu-isu miring yang disebarkan oleh pihak tertentu. Ia menyebutkan, beberapa pemberitaan justru menyudutkan proyek tanpa konfirmasi resmi ke Cikasda, yang seharusnya dilakukan untuk menjaga keseimbangan informasi.
BACA JUGA : Dihibur Band Armada, Masyarakat Dolo Selatan Doakan Anwar-Reny Menangkan Pilgub Sulteng 2024
“Kami terbuka terhadap kritik. Tapi sayang jika kritik itu dibangun di atas asumsi, bukan data. Kritik itu harus memperbaiki, bukan merusak niat baik pembangunan,” ujarnya.
Moilong Siap Jadi Lumbung Pangan Baru Sulteng
Dengan berfungsinya bendungan bifurkasi ini, masyarakat Moilong dan Toili kini memiliki harapan baru untuk pertanian yang lebih produktif, sistem irigasi yang modern, dan pengurangan risiko bencana banjir.
Proyek bernilai puluhan miliar rupiah ini tak hanya meninggalkan konstruksi beton, tetapi juga warisan pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
BACA JUGA : Sempat Mandi, Lansia Ditemukan Meninggal di Kamar Mandi Sirkuit Panggona STQ Palu
“Jika dijaga dan dimanfaatkan dengan baik, bendungan ini akan menjadi tulang punggung pertanian di Banggai bagian selatan,” tutup Djaenudin.
























