PALU – Sungguh ironi yang sangat menyakitkan dan memalukan. Nasib para subkon lokal yang bekerja sama dengan PT PP pada proyek pembangunan bendung dan irigasi di Kecamatan Mepanga kini terkatung-katung tanpa kepastian hukum dan keadilan.
Bagaimana tidak, pekerjaan fisik proyek yang dikerjakan pada tahun 2025 itu nyatanya sudah rampung 100 persen. Namun, di balik kesuksesan pembangunan tersebut, tertinggal
“aroma tak sedap” yang kini membusuk dan mengganggu penciuman publik.
Isu tunggakan pembayaran ini bukan lagi rahasia umum. Bahkan kabar buruk ini sudah terendus hingga ke kalangan akar rumput di Bumi Parigi Moutong, dan menjadi bahan pembicaraan hangat di setiap warung kopi (warkop).
Pertanyaan besar yang terus bergema di masyarakat: “Masa sekelas perusahaan BUMN besar yang terkenal sampai tak mampu melunasi hutang ke subkon lokal?”
Padahal, jika dilihat dari skala perusahaan dan nilai proyek raksasa yang didapatkan PT PP di Sulawesi Tengah, sisa nominal yang belum dibayar itu sebenarnya terbilang sangat kecil. Tapi bagi kontraktor lokal, uang itu adalah nyawa dan modal hidup.
SUBKON TANGIS, NILAI RP 500 JUTA DIBAYAR TUNGGAK
Salah seorang pekerja yang terlibat langsung dan memahami kondisi di lapangan, yang namanya dirahasiakan demi keamanan, membenarkan kelaliman yang terjadi.
“Saya dengar langsung dari salah satu subkon bahwa sisa pembayaran mereka belum dilunasi. Bahkan ada yang nominalnya cukup besar, kisaran Rp 500 juta,” ungkapnya kepada awak media, Rabu (15/04/2026).
“Ngeri sekali rasanya. Mungkin menurut mereka (PT PP) nominal itu kecil, tapi mana kita tau? Bagi kami, modal itu adalah harapan besar untuk diputar kembali demi menyambung hidup dan pekerjaan berikutnya. Ini bukan main-main, ini soal nasib keluarga,” pungkasnya dengan nada kecewa yang mendalam.
Lebih jauh, ia juga menyampaikan kritik pedas kepada pemerintah daerah. Seharusnya, pemprov atau instansi terkait bertindak tegas menegur perusahaan yang bersikap sewenang-wenang dan terkesan meremehkan serta menindas kontraktor lokal.
SANGAT TIDAK HORMAT! SAMPAI MOMENTUM HUT KE-62 SULTENG, PT PP MASIH BUNGKAM
Yang semakin membuat hati masyarakat panas dan tersinggung adalah sikap sangat tidak bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh manajemen PT PP.
Awak media telah berulang kali mencoba melakukan konfirmasi melalui pesan WhatsApp kepada pihak manajemen lapangan yang dikenal bernama Sutarno. Namun sayangnya, hingga berita ini diturunkan, bahkan saat ini Provinsi Sulawesi Tengah sedang merayakan HUT ke-62, tidak ada satu pun tanggapan atau jawaban yang diberikan.
Mereka memilih diam seribu bahasa, seolah mengabaikan penderitaan mitra kerja yang sudah banting tulang menyelesaikan proyek mereka.
Sungguh sangat ironis, di saat seluruh elemen masyarakat bersukacita dan membangun semangat kebersamaan dalam peringatan hari jadi daerah, PT PP justru membiarkan luka duka para pengusaha lokal terbuka lebar tanpa kepastian.
Apakah ini cara BUMN menghormati daerah tempat mereka berbisnis? Menahan hak orang lain, dan diam saja bahkan saat hari besar tiba?
Sikap diam ini semakin memperkuat anggapan bahwa BUMN besar ini merasa paling berkuasa, bisa seenaknya menahan hak orang lain, dan tidak punya rasa hormat sama s






















