KAPOLDA
Daerah  

Satrio, Kepala Gudang Bulog Ongka Terkesan Tertutup, Publik Pertanyakan Transparansi Penyerapan Hasil Petani

BULOG
Gudang Bulog Ongka di Desa Kayu Jati, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong. FOTO : DOK. SUHIRMAN/REDAKSI FOKUS RAKYAT.

FOKUSRAKYAT.NET, PARIMO – Peran Bulog sebagai penyerap hasil tani. Khususnya gabah dan beras, sangat strategis dalam menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan pangan. Namun, sikap tertutup yang ditunjukkan Satrio, Kepala Gudang Bulog Ongka di Desa Kayu Jati, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, justru memunculkan tanda tanya besar soal transparansi lembaga tersebut.

Saat dikonfirmasi wartawan media, pada Kamis kemarin, 3 Juli 2025. Terkait capaian penyerapan hasil petani di wilayah kerjanya, Satrio enggan memberikan penjelasan. Ia terkesan menghindari pertanyaan, bahkan menyatakan tidak bisa memberikan keterangan apa pun tanpa izin dari Kantor Cabang Bulog Palu.

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak, kecuali harus ada izin atau menyurat dulu ke kantor cabang Palu. Lalu pihak Palu meneruskan surat itu ke kantor pusat. Kalau sudah ada balasan dari pusat yang akan diteruskan ke kita di sini, baru saya bisa ambil keputusan,” ujar Satrio.

BACA JUGA : Sejumlah Kerusakan Pada Ruas Jalan Sibalaya – Poi, Siapa Bertanggung Jawab?

Tak hanya itu, Satrio juga menyebut bahwa aturan ini merupakan edaran tertutup dari pusat yang hanya berlaku untuk internal Bulog.

Ketika diminta kontak person cabang Palu untuk klarifikasi lebih lanjut.

Ia berdalih belum bergabung dalam grup internal dan tidak memiliki akses ke kontak tersebut.

“Saya belum bergabung dalam grup, banyak orang baru juga. Nanti saya mintakan nomor kontak humasnya, besok saya kirim ke Bapak untuk izin dulu ke kantor cabang Palu,” imbuhnya.

BACA JUGA : Semarak Hari Bhayangkara, Pasar Murah Polda Sulteng Diserbu Warga

Sikap tertutup dan berbelit-belit ini memicu pertanyaan dari publik.

Terutama para petani dan pemerhati pangan di wilayah Parimo, yang menilai seharusnya Bulog sebagai lembaga publik bersikap terbuka dalam memberikan informasi.

Bahkan, Satrio sempat meminta agar media tidak memuat pernyataannya, kecuali sudah mendapatkan izin resmi dari kantor cabang.

Hal ini justru semakin menimbulkan kesan bahwa ada aroma tak sedap dalam sistem informasi di tubuh Bulog.

Padahal, penyerapan hasil panen oleh Bulog sangat krusial untuk memastikan harga di tingkat petani tidak jatuh.

Serta menjaga keseimbangan pasar demi keuntungan bersama antara petani dan konsumen.

BACA JUGA : Polisi Amankan 7 Wanita Penjudi di Nambo, Judi Bingo-Bingo Resahkan Warga

Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya menghubungi pihak Kantor Cabang Bulog Palu guna memperoleh klarifikasi resmi dan mengurai kebuntuan informasi yang terjadi di tingkat gudang.

Transparansi seharusnya menjadi ruh utama lembaga publik, apalagi yang mengelola sektor pangan.

Harapan masyarakat tentu sederhana. Bulog hadir bukan hanya sebagai penampung hasil panen. Tetapi juga sebagai mitra jujur dan terbuka bagi petani dan publik luas.

BACA JUGA : Bibit Pemain Muda U-13 Desa Ongka Lolos Club Palu Selection Wakili Sulawesi Tengah di Ajang Nasional

Untuk diketahui, berdasarkan data yang diperoleh media ini. Harga standar beras di Parigi Moutong umumnya mulai dari Rp12.000/kg sampai dengan  Rp13.000/kg.

Sekarang menembus angka Rp17.000/kg, terlihat peran Bulog tidak maksimal.

Menurut keterangan salah seorang ibu rumah tangga, yang dikonfirmasi di kompleks Bulog Kompleks Pergudangan Ongka.

Ia mengatakan bahwa harga beras eceran sekarang mencapai angka Rp17.000 perkilogram.

HPN HPN HPN HPN HPN HPN
pasang iklan HPN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!