DONGGALA, SABTU, 09 MEI 2026 – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memastikan akan kembali melanjutkan pengelolaan dan pengembangan Kawasan Pangan Nusantara (KPN) yang terletak di Desa Talaga, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala. Keputusan ini diambil setelah kunjungan kerja langsung yang dilakukan oleh Renny, pejabat terkait, usai rapat terbatas bersama Gubernur Sulawesi Tengah. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi oleh Kepala Bappeda, staf Dinas Tanaman Pangan, Camat Dampelas, perangkat desa, serta mantan Tenaga Ahli Gubernur Sulteng, M. Ridha Saleh.
Saat meninjau lokasi, Renny melihat langsung kondisi lahan yang terbagi menjadi dua blok utama: Blok 1 seluas 20 hektare dan Blok 2 sekitar 180 hektare. Sebagian lahan sudah dibuka dan dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menanam berbagai jenis tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan.
Menurut pengamatan Renny, kawasan ini memiliki keunggulan luar biasa. Tanahnya sangat subur dan tanaman yang ditanam warga tumbuh dengan baik. Sayangnya, hingga saat ini pengelolaannya belum dilakukan secara serius dan maksimal sehingga potensi besarnya belum tergali sepenuhnya. Padahal, wilayah ini memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan menjadi pusat pertanian dan perkebunan terpadu. Nilai strategisnya semakin kuat karena lokasinya berdekatan dengan objek wisata danau serta laut, serta didukung oleh prasarana dan sarana yang cukup memadai.
Renny menegaskan bahwa kunjungannya ini dilakukan atas arahan Gubernur. Tujuannya untuk melihat dan mendapatkan gambaran kondisi yang objektif di lapangan sebelum program pengelolaan kawasan ini benar-benar dijalankan kembali secara menyeluruh. Sebagai langkah nyata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah segera akan membentuk dua tim khusus yang akan bekerja langsung di lokasi, yaitu Tim Percepatan Pembangunan KPN dan Tim Mitigasi Sosial dan Lingkungan.
Sementara itu, M. Ridha Saleh memberikan penjelasan mengenai sejarah pengelolaan kawasan tersebut. Sebelumnya, lahan KPN pernah dikelola melalui kerja sama antara petani setempat dan pihak TNI. Pada masa itu, lahan tersebut cukup produktif dan pernah menghasilkan panen jagung sebanyak empat kali, serta ditanami berbagai komoditas lain seperti kacang dan cabai. Namun kegiatan tersebut kemudian berhenti.
Hingga saat ini, masih ada warga yang memanfaatkan sebagian lahan untuk bercocok tanam, meskipun pengelolaannya belum berjalan secara maksimal dan teratur. Oleh karena itu, warga setempat sangat berharap agar program pengelolaan KPN ini benar-benar dilanjutkan kembali oleh pemerintah, sehingga lahan yang subur ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar, meningkatkan hasil produksi pertanian, dan menyejahterakan masyarakat sekitar.
(Sumber: Infopena.com)
(Editior:suhirman)





























