KAPOLDA
Berita  

Ratusan Warga Tondo Geruduk Gerbang Untad, Tuntut Sanksi Berat Pelaku Pengeroyokan

TONDO
Meski penuh tekanan dan kecaman, demonstrasi berlangsung tertib dan damai. Aparat keamanan disiagakan di sekitar gerbang utama untuk mencegah eskalasi dan menjaga situasi tetap kondusif. FOTO/REDAKSI/ANDHIKA

PALU — Ratusan warga Kelurahan Tondo menggelar demonstrasi besar-besaran di depan gerbang utama Universitas Tadulako (Untad), Senin pagi, 1 Desember 2025, sejak pukul 09.05 WITA. Aksi itu merupakan respon keras atas insiden pengeroyokan terhadap warga sipil yang terjadi pada Jumat sore, 28 November 2025, usai bentrokan antarfakultas di dalam area kampus.

Insiden tersebut menimpa warga Tondo yang sehari-hari bekerja di lingkungan kampus. Mereka menjadi korban pemukulan dan pelemparan yang diduga dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dari Fakultas Kehutanan. Massa kemudian mendatangi kampus dengan sepeda motor dan mobil pikap, menuntut kejelasan, keadilan, dan pertanggungjawaban dari pihak universitas.


BACA JUGA; Kritik Pedas Farid Pundanga Ketua Kobar Parimo Firal di Medsos

TIGA TUNTUTAN UTAMA WARGA TONDO

Dalam aksi tersebut, para orator menyampaikan protes keras terhadap pihak rektorat dan perilaku sebagian mahasiswa. Massa menyuarakan tiga tuntutan utama:

  1. Sanksi Tanpa Toleransi
    Warga mendesak pihak kampus memberikan hukuman terberat, termasuk pengeluaran dari kampus, bagi mahasiswa yang terbukti melakukan provokasi, pemukulan, dan tindakan anarkis. Mereka menilai lemahnya sanksi selama ini membuat budaya tawuran kembali berulang.

  2. Krisis Etika Mahasiswa
    Demonstran mengecam sikap sebagian mahasiswa yang dinilai jauh dari nilai etika dan tanggung jawab sebagai agen perubahan.

  3. Tudingan Arogansi Birokrasi Kampus
    Massa juga menuding adanya sikap arogan dari oknum birokrasi kampus dalam kebijakan-kebijakan yang dianggap merugikan pekerja asal Kelurahan Tondo.


BACA JUGA; Patroli Blue Light Polres Donggala Tekan Aksi Premanisme, Warga Banawa Merasa Lebih Aman

PIMPINAN UNTAD TURUN LANGSUNG: MINTA MAAF DAN JANJI TINDAKAN TEGAS

Situasi semakin memanas hingga pimpinan kampus turun langsung menemui massa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Ir. Sagaf Djalalemba, naik ke atas mobil mimbar orasi untuk berdialog terbuka dengan warga, yang diwakili oleh H. Nanang. Sementara itu, para dekan dan wakil dekan siaga di belakang area demonstrasi.

Dalam dialog itu, Dr. Sagaf menyampaikan permohonan maaf resmi kepada seluruh warga Tondo atas insiden pemukulan yang menimpa mereka.

Ia menegaskan bahwa universitas akan menjatuhkan sanksi keras, termasuk kemungkinan pencabutan status mahasiswa, apabila hasil investigasi membuktikan keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam kekerasan tersebut.

Pihak universitas juga mengakomodasi permintaan warga untuk memperkuat sistem pengawasan kampus, termasuk rencana pemasangan CCTV di titik-titik rawan bentrokan.

Dr. Sagaf menekankan bahwa proses identifikasi pelaku harus dilakukan menyeluruh dan cermat agar sanksi yang dijatuhkan tepat sasaran.


BACA JUGA; Banjir Bandang Terjang Humbang Hasundutan, Enam Warga Meninggal dan Ribuan Mengungsi

AKSI DAMAI, PENGAMANAN KETAT

Meski penuh tekanan dan kecaman, demonstrasi berlangsung tertib dan damai. Aparat keamanan disiagakan di sekitar gerbang utama untuk mencegah eskalasi dan menjaga situasi tetap kondusif.

Warga kemudian membubarkan diri dengan tertib sambil menunggu hasil investigasi yang dijanjikan pihak kampus.

HPN HPN HPN HPN HPN HPN
pasang iklan HPN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!