Bahodopi, FokusRakyat.net – Proyek pembangunan pasar modern Bahodopi yang berlokasi di bekas pasar rakyat kini memasuki tahap awal pelaksanaan. Namun, proyek yang menelan anggaran fantastis hingga Rp29,9 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2025 ini justru menuai sorotan tajam lantaran indikasi lemahnya pengawasan di lapangan.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan ratusan pekerja telah mulai bekerja dengan aktivitas pembangunan seperti pekerjaan batu kosong, perakitan besi, dan pengecoran tiang cakar ayam (plat fondasi). Para pekerja didominasi oleh warga lokal serta buruh dari Kendari, Sulawesi Selatan, dan sekitar Kota Palu.
BACA JUGA : Gubernur Sulteng Bentuk Satgas Tambang, Siap Tindak Tegas Izin Bermasalah
Namun ironis, pembangunan yang digadang-gadang membawa wajah baru pasar Bahodopi ini ternyata minim pengawasan teknis.
Tidak terlihat keberadaan Direksi Kit, manajer proyek, ataupun manajer teknik di lapangan, unsur penting dalam pelaksanaan proyek pemerintah skala besar.
Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Andi R. Hadi, yang sebelumnya mengklaim bahwa pelaksanaan proyek diawasi langsung oleh pemilik perusahaan, manajer proyek, dan manajer teknik.
“Proyek itu diawasi langsung pemilik perusahaan dan tenaga manajerial, mereka mengawasi langsung di lapangan,” ujar Andi R. Hadi saat ditemui di kantor Dinas Perindustrian dan Koperasi Morowali, Jumat (25/07/2025).
BACA JUGA : Rotasi Besar di Polres Parigi Moutong: Sertijab Tandai Komitmen Polri Perkuat Kinerja dan Pelayanan
BACA JUGA : Penuh Haru, Perpisahan Kapolsek Moutong Jadi Momen Tak Terlupakan
Namun fakta berkata lain. Di lokasi, hanya tampak direktur perusahaan tanpa didampingi unsur teknis manajerial sebagaimana tertuang dalam dokumen kontrak.
Lebih mengejutkan, dalam pelaksanaan pekerjaan batu kosong, pekerja tampak menggunakan material bongkaran lama dan pasir bercampur tanah untuk mencampur adukan semen.
Proses pengecoran cakar ayam juga dilakukan secara manual tanpa pengawasan, bahkan tanpa pembersihan genangan air dalam lubang cor, sebuah praktik yang sangat membahayakan mutu struktur pondasi bangunan pasar ke depan.
Seorang pekerja asal Pangkep yang enggan disebutkan namanya mengaku hanya menjalankan instruksi mandor di lapangan.
“Kami hanya pekerja, pak. Yang kami kerjakan ya sesuai perintah mandor,” ujarnya, Rabu (06/08/2025).
Mandor yang disebut, seorang pria bernama Bahri asal Sulawesi Selatan, saat dikonfirmasi justru mengaku hanya sebagai pelaksana lapangan.
“Saya bukan kepala proyek, pak. Saya hanya mandor yang direkrut Daeng Beta. Saya cuma bawa anak buah tukang untuk kerja,” katanya melalui sambungan telepon ke redaksi.
Proyek strategis ini diduga telah diatur pemenangnya sejak proses tender.
Kuat dugaan bahwa proyek ini merupakan “jatah” orang dekat Bupati Morowali, Ikhsan Abdul Rauf, meski isu lain menyebut proyek ini “diamankan” oleh oknum penegak hukum yang memiliki pengaruh besar di Morowali.
Publik kini menanti sikap tegas dari pihak-pihak terkait, termasuk Inspektorat, Kejaksaan, dan APIP, untuk mengusut dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan proyek ini.
Jika tidak, maka proyek yang seharusnya meningkatkan ekonomi masyarakat Bahodopi justru akan menjadi simbol kegagalan tata kelola anggaran publik.
