Tolitoli, Fokusrakyat.net – Aksi demonstrasi ratusan warga Dadakitan yang tergabung dalam Front Masyarakat Desa Dadakitan Bersatu (FORMAT) mengguncang Kota Tolitoli pada Rabu (17/1).
Dalam aksinya, warga bersama mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tolitoli, menuntut pencopotan Kepala Kejaksaan Negeri Tolitoli, Albertinus Napitupulu.
Massa yang berkumpul di depan kantor Kejaksaan Negeri Tolitoli dan gedung DPRD Tolitoli menggelar orasi yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan kejaksaan terkait penangkapan Suhar, seorang warga penambang di Dusun Malempak Desa Dadakitan.
Orator utusan mahasiswa, Moh Renaldy dari GMNI, menegaskan bahwa kejaksaan telah menodai hukum dengan dugaan kriminalisasi terhadap Suhar.
“Tindakan ini melibatkan ratusan warga dan mahasiswa yang menuntut keadilan. Kami meminta Kejaksaan Agung RI untuk mencopot Kepala Kejaksaan Negeri Tolitoli karena dugaan kebijakan yang tidak sesuai dengan hukum,” seru Renaldy dalam orasinya.
Selain menuntut pencopotan Kajari Tolitoli, demonstran juga menggandeng Ketua HMI, Asriadi Umar Said, untuk menyerukan pencopotan oknum Gakum KLH Provinsi Sulawesi Tengah yang dituduh melanggar prosedur hukum dalam menetapkan Suhar sebagai tersangka.
Pihak demonstran juga mendesak pembebasan Suhar yang telah dititipkan ke LP kelas II Tambun Tolitoli.
Selain itu, mereka menekankan kepada pemerintah daerah untuk segera menetapkan Dusun Malempak sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
Kajari Tolitoli, Albertinus Napitupulu, yang menerima langsung massa pengunjuk rasa, membantah tuduhan tersebut.
“Kami sudah melakukan tindakan hukum sesuai prosedur yang ada, dan saya siap dicopot jika tuduhan itu benar,” ungkap Albertinus di hadapan ratusan massa.
Dalam aksinya, selain mahasiswa, dua lembaga swadaya masyarakat (LSM) turut menyampaikan keprihatinan terhadap nasib warga yang menggantungkan hidup dengan mendulang emas di sungai.
Legitha Aswardy, koordinator aksi, menjelaskan, “Hari ini kami sampaikan nasib keberlangsungan hidup warga yang sudah berpuluh tahun menafkahi keluarga hanya dengan mendulang emas di sungai.”
Aksi demonstrasi ini merupakan gelombang kedua setelah aksi pertama yang belum mendapatkan penjelasan dari Kajari Tolitoli.
Para demonstran melanjutkan pergerakan menuju Gedung DPRD Tolitoli dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.
Mereka berharap tuntutan mereka dapat didengar dan direspon oleh pihak berwenang untuk mencapai keadilan yang mereka dambakan.
