MEDAN| –Peresmian Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum penting penegasan komitmen pelayanan kepada masyarakat, khususnya warga kurang mampu yang masih kesulitan mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi.
Acara peresmian yang digelar di Kompleks CBD Polonia, Medan, Senin (1/6/2026) itu berlangsung hangat dan dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh daerah, kader PDI Perjuangan, anggota DPRD, relawan, pegiat budaya, mahasiswa, jurnalis, hingga masyarakat lintas generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Sofyan Tan menegaskan bahwa Rumah Aspirasi ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan. Ia menyebut rumah tersebut sebelumnya bersifat pinjam pakai, dan kini telah resmi menjadi wadah pelayanan yang lebih permanen bagi masyarakat.
Menurut Sofyan Tan, Rumah Aspirasi ini difokuskan untuk menampung berbagai persoalan warga, terutama di bidang pendidikan. Ia menegaskan bahwa masyarakat kurang mampu yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tidak perlu ragu untuk datang dan meminta bantuan, termasuk akses beasiswa.
“Rumah aspirasi ini terbuka untuk semua golongan. Khususnya untuk menampung berbagai persoalan masyarakat di bidang pendidikan. Orang miskin datang ke sini akan mendapatkan bantuan beasiswa, saya garansi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, kehadiran Rumah Aspirasi diharapkan dapat menjadi jembatan bagi masyarakat yang selama ini terkendala biaya untuk melanjutkan sekolah maupun kuliah.
Sofyan juga menyoroti masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menyebut, dari 100 lulusan sekolah, hanya sekitar 32 orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila melalui kerja nyata yang berpihak kepada rakyat kecil. Ia menegaskan bahwa politik yang ia jalankan bukanlah politik kebencian atau perpecahan, melainkan politik kemanusiaan dan kasih sayang.
“Saya tidak pernah memainkan politik pecah belah, kebencian, kemarahan, dan kecemburuan. Saya mengusung politik cinta kasih, politik kemanusiaan,” katanya.
Dalam pidatonya, ia juga menceritakan perjalanan politiknya yang tidak dirancang sejak awal, melainkan mengalir seiring dorongan berbagai pihak. Ia kemudian dipercaya menjadi kader PDI Perjuangan hingga akhirnya melenggang ke Senayan dan terus meningkatkan perolehan suara di setiap pemilu.
Selain fokus pada pendidikan, Sofyan juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa, termasuk dukungan terhadap musik keroncong agar dapat diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Ia menilai kemajuan budaya mencerminkan tingkat peradaban masyarakat.
“Kalau kebudayaan berkembang, berarti rakyat kita beradab dan tertib. Kita ingin budaya Indonesia semakin kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon yang meresmikan Rumah Aspirasi tersebut memberikan apresiasi atas kontribusi Sofyan Tan dalam memperjuangkan akses pendidikan di Sumatera Utara, khususnya melalui jalur beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa.
Menurutnya, selama bertugas di Komisi X DPR RI, Sofyan Tan telah banyak membantu masyarakat dalam memperoleh kemudahan akses pendidikan.
“Dengan adanya rumah aspirasi ini, anak-anak Sumatera Utara semakin mudah mendapatkan informasi dan akses beasiswa,” ujarnya.
Rapidin juga menegaskan bahwa keberadaan Rumah Aspirasi ini akan semakin memperkuat hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat, sekaligus menjadi pusat perjuangan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut.
Acara peresmian berlangsung dalam suasana kebersamaan dan penuh semangat gotong royong. Rumah Aspirasi ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat layanan aduan masyarakat, tetapi juga ruang lahirnya generasi muda yang lebih berkualitas, berdaya saing, dan mampu memberi dampak bagi bangsa di masa depan.(Red)
