Bijak Gunakan Media Sosial, 2 Dampak Buruk bagi Orang Suka Mencela di Medsos

Foto : Ilustrasi. (islampos)

FOKUS RAKYAT — Di era modern yang penuh dengan teknologi dan konektivitas, media sosial telah menjadi salah satu platform utama bagi masyarakat untuk berkomunikasi dan mengekspresikan pendapat.

Dengan hanya beberapa ketukan jari, seseorang dapat dengan mudah menyampaikan aspirasi dan pemikirannya kepada ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh dunia.

Media sosial tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga menjadi tempat di mana berbagai gagasan dan opini dapat dipertukarkan dengan cepat.

Namun, kebebasan berbicara di media sosial tidak selalu digunakan dengan bijak.

Banyak orang merasa lebih bebas berbicara tanpa batas, termasuk melontarkan kata-kata kasar, mencaci, dan mencela.

Hal ini sering kali terjadi karena anonimitas yang ditawarkan oleh platform media sosial, di mana pengguna dapat bersembunyi di balik akun-akun tanpa identitas asli.

Fenomena ini memicu peningkatan komentar negatif dan perilaku kurang bertanggung jawab di dunia maya, lebih bebas dibandingkan dunia nyata.

Sebagai seorang mukmin, penting untuk menjaga adab dalam berbicara, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Islam mengajarkan bahwa perkataan yang baik adalah cerminan akhlak yang mulia.

Menghina, mencela, atau melaknat, apapun medianya, tidaklah layak bagi seorang yang beriman.

Media sosial seharusnya menjadi alat untuk menyebarkan kebaikan dan membangun hubungan yang lebih baik antar sesama manusia, bukan tempat untuk menyebarkan kebencian atau permusuhan.

Oleh karena itu, di tengah maraknya penggunaan media sosial, mari kita bersama-sama mengingatkan diri untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam berbicara, selalu memilih kata-kata yang baik dan menghindari ucapan yang menyakiti hati orang lain.

Dunia maya mungkin memberi ilusi anonimitas, tetapi setiap tindakan dan perkataan kita tetap memiliki konsekuensi, baik di hadapan sesama manusia maupun di hadapan Tuhan.

“Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor.” (HR. Ahmad) dikutip dari Islam Pos, Rabu pagi, 25 September 2024.

Hendaknya kita berhati-hati menjaga lisan kita di dunia nyata dan menjaga tulisan serta komentar kita di dunia maya.

Karena tulisan ini kedudukannya sama dengan ucapan lisan.

Sebagaimana kaidah:

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana lisan.”

Ketika lisan suka mencaci, mencela, melaknat, ghibah dan berkata-kata kotor kepada orang lain, ini sama saja kita akan “bagi-bagi pahala gratis” kepada mereka kemudian kita akan bangkrut.

Mengapa demikian? Karena dengan lisan dan tulisan kita, mereka yang kita cela dan caci-maki adalah pihak yang kita dzalimi.

Jika kita tidak meminta maaf di dunia, maka urusan akan berlanjut di akhirat.

Di akhirat kita tidak bisa meminta maaf begitu saja, akan tetapi ada kompensasinya.

Kompenasi tersebur bukan uang ataupun harta. Karena ini sudah tidak bermanfaat di hari kiamat.

Allah SWT berfirman,

“Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS Asy-Syu’araa: 88-89).

Terdapat kompensasi berat atas buruknya lisan di medsos dikutip dari Islam Pos, yaitu sebagai berikut:

1. Jika punya pahala kebaikan seperti pahala shalat dan puasa, maka akan dibagi-bagikan kepada mereka yang didzalimi di dunia dan belum selesai perkaranya artinya belum ada maaf dan memaafkan

2. Jika yang mendzalimi (mencela dan memaki) sudah habis pahalanya, maka dosa orang yang didzalimi akan ditimpakan dam diberikan kepada orang yang mendzalimi. Inilah yang disebut dengan orang yang bangkrut atau “muflis” di hari kiamat berdasarkan hadits berikut,

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Rasulullah SAW berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Tahukah kamu bahwa di dunia ini cukup sulit mencari keadilan yang seadil-adilnya. Ini adalah bukti adanya kehidupan setelah kematian di mana pada hari tersebut akan ada keadilan yang seadil-adilnya. Hendaknya kita sebagai seorang muslim menjaga lisan kita, karena memang lidah itu tidak bertulang, sangat mudah kita dengan lisan dan tulisan kita menyakiti orang lain. Terlebih yang disakiti adalah sesama muslim yang sejatinya bersaudara.

Allah SWT berfirman,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al-Ahzab: 58).

Karenanya Rasulullah SAW menjamin surga mereka yang bisa menjaga lisannya. Beliau bersabda,

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.” (HR. Bukhari).

error: Content is protected !!
Exit mobile version