PALU – Kasus dugaan eksploitasi tenaga kerja di CV Sumber Cahaya 99, Kota Palu, yang sempat menjadi sorotan tajam lantaran pejabat terkait memilih diam seribu bahasa, kini mulai menemukan titik terang.
Menanggapi pemberitaan yang mengguncang publik tersebut, Firdaus MG Abd Karim yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas (Sekdis) Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Sulawesi Tengah, akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi.
Dalam penjelasannya, Firdaus membeberkan alasan mengapa dirinya terlihat menutup diri dan tidak merespons konfirmasi awak media sebelumnya.
“Mohon maaf sebelumnya. Memang benar saya tidak merespon saat itu. Alasannya sederhana, karena belakangan ini banyak sekali oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan menghubungi saya via WhatsApp. Dulu saya selalu respon dan berikan informasi, tapi ternyata saya kena tipu,” ungkap Firdaus dengan nada jujur namun defensif.
“Jadi karena pengalaman buruk itu, saya jadi waspada dan memilih diam,” tambahnya.
Lebih jauh, pria yang dulu dikenal sebagai Kabid PHI ini juga meminta pemakluman terkait keterlambatan respon. Menurutnya, ada dua hal utama yang menjadi alasan.
“Pertama, kemarin saya memang sedang sangat sibuk menangani kasus rentetan yang terjadi di Morowali. Kedua, perlu diketahui bersama bahwa status jabatan saya sudah berubah. Saya sudah bukan lagi di bidang lama, sekarang saya sudah menjabat sebagai Sekdis,” tegasnya.
“Jadi kiranya miskomunikasi yang terjadi sebelumnya bisa diperbaiki dan dimaklumi,” pinta Firdaus.
Ketika ditanya secara tegas mengenai nasib karyawan yang digaji UMR 2024 dan tidak ada kepastian BPJS di CV Sumber Cahaya 99, Firdaus mengaku sudah mengambil langkah.
“Terkait masalah yang terjadi di CV Sumber Cahaya 99, saya sudah memberikan instruksi langsung kepada Kabid dan Kepala UPT untuk mendalami berita ini. Saya sudah perintahkan agar segera turunkan tim untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan,” ujarnya.
Janji sudah terlontar, instruksi sudah diberikan. Namun, masyarakat kini menanti bukti nyata. Apakah tim yang diturunkan benar-benar akan bertindak tegas menegakkan hukum? Atau ini hanya sekadar basa-basi untuk meredam kemarahan publik? Kita tunggu aksinya!
