Berita  

Retakan Memanjang Muncul di Sejumlah Titik Oprit Jembatan Perlu Diperiksa, PPK Akui Retakan Masih Normal

jembatan
KETERANGAN FOTO : Pembangunan Jembatan Sementara Sipi - Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Dongala Desa (Sipi - Jono), Volume Pekerjaan 120 Meter. (DOK. REDAKSI)

DONGGALA — Hasil penelusuran lapangan terhadap kondisi pasangan batu pada dinding talud oprit Jembatan Sipi–Jono menemukan adanya retakan memanjang pada sejumlah titik, baik pada sisi kiri maupun sisi kanan oprit.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dinding talud pada area oprit bukan sekadar elemen pelengkap konstruksi.

BACA JUGA : Oprit Jembatan Dikeluhkan Warga Belum Diaspal, PPK : Aspal  Tak Ada Anggaranya

Talud berfungsi menahan dan mengamankan material tanah urugan yang menjadi bagian dari struktur penghubung antara badan jalan dengan konstruksi jembatan.

jembatan
KETERANGAN FOTO : Pembangunan Jembatan Sementara Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Dongala Desa (Sipi – Jono), Volume Pekerjaan 120 Meter. (DOK. REDAKSI)

Secara teknis, retakan pada pasangan batu belum dengan sendirinya membuktikan bahwa konstruksi mengalami kegagalan.

Namun, apabila retakan tersebut berkembang, semakin lebar, disertai pergeseran dinding, kemiringan talud, penurunan badan jalan, atau keluarnya material tanah dari belakang dinding, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya persoalan pada sistem penahan tanah dan drainase.

BACA JUGA : Tronton Parkir di Badan Jalan, Pengendara Honda Beat Tewas Tabrak Bagian Belakang

Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Ir. Faidul Keteng, ST., M.Si., MT., IPU, dimintai tanggapan terkait dengan dua paket pembangunan jembatan Sipi – Jono di kabupaten Donggala.

jembatan
KETERANGAN FOTO : Pembangunan Jembatan Sementara Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Dongala Desa (Sipi – Jono), Volume Pekerjaan 120 Meter. (DOK. REDAKSI)

1. Nama Paket Pembangunan Jembatan Sementara Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Dongala Desa (Sipi – Jono), Volume Pekerjaan 120 Meter, Jenis Pengadaan Pekerjaan Konstruksi, Total Pagu Rp. 5.240.902.600 (Rp5,2 miliar), Metode Pemilihan E-Purchasing.

2. Nama Paket Penyediaan Rangka Baja Jembatan Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Kabupaten Dongala Desa Sipi – Jono, Volume Pekerjaan 120 Meter, Jenis Pengadaan Pekerjaan Konstruksi, Total Pagu Rp. 7.320.225.000 (Rp7,3 miliar), Metode Pemilihan E-Purchasing.

Adapun yang dikonfirmasi dimintai tanggapanya, terkait :

Retakan Memanjang Perlu Ditelusuri Penyebabnya

Dari hasil pengamatan visual, retakan terlihat memanjang pada sejumlah bagian pasangan batu talud, termasuk pada sisi kiri dan kanan oprit.

Retakan semacam ini perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui apakah disebabkan oleh faktor permukaan atau berkaitan dengan pergerakan struktur.

Mengapa Kondisi Oprit Perlu Mendapat Perhatian?

Oprit merupakan bagian penting yang menghubungkan badan jalan dengan jembatan. Di belakang dinding talud terdapat material tanah urugan yang menopang bagian konstruksi jalan.

Apabila dinding penahan tersebut kehilangan kemampuan menahan tekanan tanah, maka material urugan dapat mengalami pergeseran, penurunan atau deformasi.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat berdampak pada permukaan jalan di sekitar oprit, misalnya munculnya penurunan, retakan pada badan jalan, atau ketidakrataan pada sambungan antara jalan dan jembatan.

Risiko tersebut tentu tidak dapat ditentukan hanya melalui pengamatan visual. Besarnya risiko harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan teknis terhadap dinding talud, kondisi tanah, drainase, pondasi, dimensi konstruksi serta perkembangan retakan.

Jangan Menunggu Kerusakan Berkembang

Kondisi retakan pada talud oprit semestinya menjadi perhatian sejak dini. Prinsip pemeliharaan infrastruktur adalah mendeteksi dan menangani indikasi kerusakan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.

Terlebih lagi, oprit merupakan bagian yang menerima beban lalu lintas dan berhubungan langsung dengan struktur jembatan.

Karena itu, retakan pada dinding talud perlu dicatat, diukur dan dievaluasi secara teknis, bukan sekadar ditutup atau diperbaiki secara kosmetik tanpa mengetahui penyebabnya.

Pertanyaan untuk Pihak Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Sulteng?

Atas temuan tersebut, beberapa hal penting yang patut diklarifikasi kepada pihak terkait antara lain:

– Pertama, apakah retakan pada talud oprit Jembatan Sipi–Jono telah diketahui oleh pemilik pekerjaan dan penyedia jasa?

– Kedua, apakah telah dilakukan pemeriksaan teknis terhadap penyebab retakan?

– Ketiga, bagaimana kondisi sistem drainase di belakang dinding talud?

– Keempat, apakah hasil pekerjaan pasangan batu, pondasi, tanah urugan dan pemadatan telah sesuai dengan gambar kerja serta spesifikasi teknis?

– Kelima, apakah pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan dan siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap penanganan kerusakan?

– Keenam, apakah terdapat hasil pengujian mutu material dan dokumentasi pengawasan pekerjaan yang dapat menunjukkan kesesuaian pekerjaan dengan kontrak?

Publik tentu berharap persoalan tersebut dapat segera diperiksa secara objektif dan transparan.

Sebab, memperbaiki retakan tanpa memastikan penyebabnya berpotensi hanya menyelesaikan gejala, bukan persoalan teknis yang mendasarinya.

Masyarakat pengguna jalan membutuhkan kepastian bahwa Jembatan Sipi–Jono beserta oprit dan talud pendukungnya berada dalam kondisi aman, kokoh dan sesuai dengan standar teknis yang dipersyaratkan.

Kadis Faidul Keteng, kepada wartawan Kamis kemarin, meminta agar segera mengubungi PPK Syaiful menangani paket jembatan Sipi – Jono tersebut.

“Tolong bapak (wartawan,red) hubungi yaa pak Syaiful PPK, karena beliau yang lebih tahu,” ungkapnya.

Sementara itu, Syaiful, selaku PPK menangani jembatan di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Sulteng, mengatakan, untuk retakan memanjang pada susunan batu bangunan oprit jembatan diakuinya tidak bermasalah serius.

Kata dia, kondisi tanah di area jembatan Sipi – Jono sifatnya tidak labil. Dimana retakan memanjang di sejumlah titik itu, tidak besar retakan dan tidak bertambah banyak retakannya.

Artinya, kata dia lagi, kondisi tanah tidak labil itu tidak mudah bergeser, dan tidak gampang berubah bentuk atau rusak saat menanggung tekanan atau beban berat.

“Yaa kita lihat sendiri, retakan memanjang sedikit saja disana dan tidak membesar retakannya. Sudah setahun lebih kondisi retakan tidak terlalu parah dan itu normal saja,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Menurutnya, akan tetapi retakan memanjang itu tetap akan diperbaiki. Dengan memplaster Kembali talud yang mengalami retakan – retakan memanjang tersebut.

“Kami juga akan segera perbaiki kerusakanya,” jelasnya. (REDAKSI/ATR)

pasang iklan
error: Content is protected !!