TOLI-TOLI — Di tengah hamparan kebun yang menjadi sumber penghidupan warga, tersembunyi kisah pilu yang menyentuh hati masyarakat Desa Bilo, Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Toli-Toli. Seorang ayah dan kepala keluarga yang sehari-hari memeras keringat di ladang untuk memberi makan istri dan menyekolahkan anaknya, justru terjebak dalam jeratan narkoba selama puluhan tahun — hingga akhirnya tertangkap dan kini ditahan di Kepolisian Resor Toli-Toli. Di balik pintu tahanan, tangis keluarga pecah: siapa yang akan menafkahi mereka? Harapan satu-satunya kini tertuju pada satu permohonan sederhana namun berat: berikan kesempatan untuk dipulihkan, bukan sekadar dihukum.
Yang dimaksud adalah Syamsudin, warga Desa Bilo yang berprofesi sebagai pekebun. Ia kini ditahan di Polres Toli-Toli dalam proses hukum terkait penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari istri, anak, hingga tetangga, ketergantungan Syamsudin terhadap narkoba sudah berlangsung puluhan tahun. Ia mengaku tidak sanggup bekerja di kebun tanpa mengonsumsinya terlebih dahulu; tubuhnya terasa lemas dan tidak nyaman jika belum memakai zat tersebut.
“Selama ini memang dia pakai, katanya supaya kuat dan tahan lama kerja di kebun. Sudah bertahun-tahun begitu,” ungkap salah seorang warga.
Syamsudin adalah satu-satunya tulang punggung keluarga. Seluruh kebutuhan hidup rumah tangga, makanan, hingga biaya pendidikan anak yang baru saja masuk jenjang perguruan tinggi, sepenuhnya bergantung pada hasil keringatnya dari mengolah kebun. Jika ia tidak dapat bekerja atau terpisah dari keluarga, nasib penghidupan mereka menjadi tidak jelas.
“Kalau Bapak tidak bekerja, kami makan apa? Anak baru masuk kuliah, biaya dan kebutuhan harian dari mana?” ujar istrinya dengan suara bergetar.
Istri tidak membela perbuatan suaminya, namun memohon kepada pihak berwenang agar melihat kondisi yang sebenarnya. Suaminya bukan pengedar, melainkan korban ketergantungan yang telah berlangsung lama dan tidak mampu diatasi sendiri. Ia berharap ada jalan yang memungkinkan suaminya dipulihkan melalui rehabilitasi, sehingga nantinya dapat kembali bekerja, menghidupi keluarga, dan hidup sehat tanpa bergantung pada narkoba.
“Kami memohon pertimbangan. Berikan kesempatan dia direhabilitasi. Dia butuh bantuan, bukan sekadar dihukum. Kalau dia sehat dan sembuh, dia bisa kembali bekerja dan tidak lagi memakai barang haram itu,” harap istrinya.
Hingga kini, proses hukum yang dijalani Syamsudin masih berlangsung di Polres Toli-Toli. Pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mempertimbangkan aspek pemulihan, mengingat statusnya sebagai pengguna, ketergantungan yang sudah berlangsung lama, serta tanggung jawabnya sebagai penopang hidup keluarga yang masih sangat membutuhkannya.



















