FOKUSRAKYAT.NET, DONGGALA — Proyek penanganan lereng di ruas Tambu–Tompe–Pantoloan, khususnya di kawasan Gunung Bossa, Kecamatan Balaesang hingga Sirenja, Kabupaten Donggala, menuai sorotan tajam dari publik. Proyek ini merupakan bagian dari program strategis nasional tahun anggaran 2023, dengan nilai kontrak sebesar Rp61,3 miliar, yang dikerjakan oleh PT Anugerah Karya Agra Sentosa.
Namun, alih-alih memberikan rasa aman, kondisi terkini di lapangan justru mengundang kekhawatiran. Sejumlah kerusakan signifikan ditemukan di lokasi proyek, mulai dari saluran drainase yang amblas, hingga pagar pembatas jalan yang rusak bahkan hilang.
Drainase Tak Berfungsi, Jalan Terancam Rusak
Pantauan tim media di lapangan mengungkapkan, saluran drainase di lereng Gunung Bossa tersumbat oleh lumpur, sampah, dan material longsoran.
BACA JUGA : Diduga Sopir Ngantuk, Truk Muatan Tabrak Kontainer di Jalan Trans Sulawesi
Akibatnya, aliran air tidak berjalan semestinya, menyebabkan genangan yang berpotensi menggerus badan jalan secara perlahan.
Desain drainase juga dipersoalkan. Beberapa pihak menilai, kemiringan yang tidak sesuai serta ukuran saluran yang terlalu kecil membuatnya tidak mampu menampung debit air, terutama di musim hujan.
Hal ini diperparah oleh minimnya pemeliharaan pasca-pembangunan, yang membuat endapan lumpur dan sampah kian menumpuk.
Pagar Pembatas Rusak dan Hilang, Warga Khawatir
Selain drainase, kondisi pagar pembatas jalan nasional juga menjadi sorotan. Di beberapa titik, pagar tampak patah, miring, bahkan hilang sama sekali.
Padahal, keberadaan pagar tersebut sangat krusial, mengingat lereng Gunung Bossa dikenal sebagai jalur rawan longsor dan kecelakaan, terutama bagi kendaraan berat dan roda dua.
BACA JUGA : Sulteng Siap Jadi Poros Logistik Timur Indonesia, Gubernur Anwar Hafid Paparkan Proyek Strategis ke AHY
“Kami sudah beberapa kali melintas di jalur ini dan sangat khawatir. Pagar yang hilang bisa menyebabkan kendaraan jatuh ke jurang kalau sopir tidak hati-hati, apalagi saat hujan deras,” ungkap Hendrik, seorang sopir truk asal Palu.
Sejumlah warga juga mempertanyakan ke mana bagian pagar yang hilang tersebut, karena hingga kini keberadaannya tidak diketahui.
Kondisi ini menjadi peringatan keras akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan, terutama di daerah rawan bencana.
Lereng Gunung Enu Tak Kalah Parah
Tak jauh dari lokasi tersebut, kerusakan serupa juga ditemukan di lereng Gunung Enu, Kecamatan Sindue. Ruas jalan nasional di lokasi ini dilaporkan amblas akibat rembesan air, erosi tanah, serta rusaknya drainase dan perkerasan jalan.
Kondisi ini bahkan mengganggu arus lalu lintas dan terancam memutus akses vital antar wilayah di Pantai Barat Sulawesi Tengah.
BPJN Sulteng: Sudah Diteruskan ke Kasatker dan PPK
Terkait keluhan tersebut, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Sulawesi Tengah, Dadi Muradi, S.T., M.T., saat dikonfirmasi menyatakan bahwa dirinya telah meneruskan informasi dan temuan di lapangan kepada pihak teknis terkait.
“Ya, sudah saya infokan ke Kasatkernya. Nanti mereka yang akan memberikan klarifikasi teknis lebih lanjut,” ujarnya singkat.
“Ke kasatker dan ppknya om ya tks. Ya sdh sy infokan k kasatker nya,” ungkapnya melalui pesan whatsapp, baru-baru ini.
Masyarakat berharap BPJN Sulteng dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan teknis dan pelaksanaan proyek.
Demi menjamin keselamatan pengguna jalan dan mencegah kerusakan lebih parah di masa depan.
