Dongeng Empat Raksasa Besi dan Tiga Orang yang Menghilang
Alkisah, di sebuah negeri yang dikelilingi hutan hijau dan perbukitan, terdapat sebuah lembah yang kaya akan tanah dan batu-batuan.
Di lembah itu, setiap hari terdengar suara gemuruh
Bukan suara guntur.
Melainkan suara empat raksasa besi yang mengeruk tanah tanpa henti.
Penduduk desa mulai bertanya-tanya. Siapa yang membawa raksasa-raksasa itu? Siapa pemiliknya? Dan atas perintah siapa mereka bekerja?
Suatu pagi, datanglah sekelompok penjaga kerajaan.
Mereka memasuki lembah dan melakukan penyisiran.
Para penjaga menemukan empat raksasa besi yang berada di kawasan tersebut. Mereka juga menemukan tiga orang yang berada tidak jauh dari tempat raksasa-raksasa itu bekerja.
Ketiganya kemudian dibawa untuk dimintai keterangan.
Penduduk desa bersorak kecil.
“Akankah kali ini kebenaran terungkap?” tanya seorang warga.
Yang lain menjawab, “Kita tunggu saja. Bukankah penjaga kerajaan sudah menemukan semuanya?”
Malam pun tiba.
Penduduk pulang ke rumah masing-masing dengan membawa harapan.
Namun keesokan harinya, sebuah cerita lain mulai berembus dari mulut ke mulut.
Dari tiga orang yang disebut diamankan itu, salah satunya diketahui merupakan saudara dari seorang tokoh bernama Mahamuda.
Nama Mahamuda bukanlah nama asing bagi sebagian penduduk. Dahulu, ia dikenal sebagai salah seorang yang sering menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut.
Keadaan itu membuat penduduk semakin penasaran.
“Bagaimana hubungan antara cerita lama Mahamuda dengan peristiwa yang baru saja terjadi?” bisik seorang warga.
Tetapi tetua desa segera mengingatkan.
“Jangan mencampuradukkan hubungan keluarga dengan kesalahan seseorang. Jika saudaranya berada di lokasi, biarkan fakta dan pemeriksaan yang menentukan apa perannya.”
Penduduk pun terdiam.
Sebab mereka sadar, hubungan darah bukanlah bukti keterlibatan.
Namun pertanyaan mengenai peristiwa di lembah tetap belum terjawab.
Hari pertama berlalu.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Semakin lama, semakin banyak pertanyaan muncul.
Ke mana empat raksasa besi itu?
Bagaimana status tiga orang yang disebut diamankan?
Apa hasil pemeriksaan mereka?
Dan pertanyaan lainnya:
Mengapa informasi mengenai operasi tersebut tiba-tiba menjadi sunyi?
Kemudian, dari sudut pasar, beredar sebuah bisikan.
Konon ada istilah rahasia yang disebut “86”.
Namun tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apakah bisikan itu benar atau hanya kabar yang berkembang di tengah masyarakat.
Tetua desa kembali berkata:
> “Jangan jadikan bisikan sebagai kebenaran. Jika ada dugaan, carilah bukti. Jika ada penindakan, tanyakan proses hukumnya. Dan jika ada barang bukti, tanyakan keberadaannya.”
Penduduk pun mulai memahami bahwa cerita tersebut bukan hanya tentang empat raksasa besi.
Ada seorang saudara dari tokoh yang dahulu dikenal menentang tambang ilegal.
Ada operasi penyisiran.
Ada pertanyaan tentang barang bukti.
Dan ada kabar yang tiba-tiba menjadi sunyi.
Sejak saat itu, penduduk desa menunggu di gerbang kerajaan.
Mereka tidak datang untuk menghakimi siapa pun.
Mereka hanya ingin mendengar jawaban.
“Wahai para penjaga,” kata seorang warga, “jika raksasa-raksasa itu memang telah diamankan, tunjukkan di mana mereka berada.”
“Jika tiga orang itu telah diperiksa, ceritakan bagaimana hasilnya.”
“Jika mereka dilepaskan, jelaskan alasannya.”
“Dan jika perkara itu dihentikan, tunjukkan dasar hukumnya.”
Tetua desa kemudian menutup pembicaraan dengan sebuah pesan:
“Dalam sebuah negeri yang menjunjung hukum, yang paling penting bukan siapa saudara siapa, bukan siapa pernah berkata apa, dan bukan pula apa yang dibisikkan di pasar. Yang terpenting adalah fakta, bukti, dan proses hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.”
Maka kisah Empat Raksasa Besi, Tiga Orang, dan Saudara Sang Penentang Tambang terus menjadi pembicaraan.
Bukan karena penduduk ingin menuduh.Melainkan karena mereka percaya bahwa sebuah peristiwa yang dimulai dengan penyisiran dan penemuan tidak seharusnya berakhir hanya dengan tanda tanya.
Dan sampai jawaban itu datang, satu pertanyaan tetap menggantung di udara:
Ke mana perginya empat raksasa besi dan tiga orang yang pernah ditemukan di lembah itu ?
Cerita ini hanya kisah dongeng semata untuk menghibur para pembaca.
(PENULIS : SUHIRMAN S.Pd)
