PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas dan mampu menembus pasar internasional. Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat menghadiri Deklarasi Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM dari Bumi Tadulako Menuju Pasar Global di Best Western Plus Coco Palu, Senin (28/9).
Kegiatan tersebut dihadiri ribuan pelaku UMKM dan pengusaha dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Turut hadir Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman, serta para bupati dan wali kota se-Sulawesi Tengah.
Anwar Hafid mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota untuk membuka akses yang lebih luas bagi UMKM Sulawesi Tengah menuju pasar internasional.
“Insyaallah ini program Sulawesi Tengah yang didukung penuh oleh para bupati dan wali kota yang ada di Sulawesi Tengah,” kata Anwar.
Menurut Anwar, UMKM tidak boleh hanya dipandang sebagai pelaku ekonomi berskala kecil. Dengan dukungan pendampingan, akses permodalan, peningkatan kualitas produk, serta pembukaan akses pasar, UMKM di Sulawesi Tengah harus mampu berkembang hingga menjadi pelaku ekspor.
“Saya berkomitmen bahwa UMKM sekarang menjadi salah satu kekuatan fondasi ekonomi kita,” tegasnya.
Ia menyebut Sulawesi Tengah memiliki beragam komoditas unggulan yang berpotensi dikembangkan untuk pasar internasional. Di antaranya sarang burung walet, durian, kakao, kelapa, tuna, kepiting bakau dan berbagai komoditas lainnya.
Potensi durian, kata Anwar, juga terus berkembang di sejumlah daerah, khususnya Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi.
Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan secara terintegrasi agar produk Sulawesi Tengah tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau kita berani. Saya minta semua UMKM harus berani. Jangan takut-takut, harus berani,” ujarnya.
Anwar juga menyoroti perkembangan konektivitas udara sebagai salah satu peluang untuk mempercepat kegiatan ekspor dari Sulawesi Tengah. Ia menyebut penerbangan rute Palu-Guangzhou dapat menjadi salah satu akses bagi pelaku usaha daerah untuk menjangkau pasar Tiongkok.
Menurutnya, frekuensi penerbangan tersebut ke depan diharapkan semakin bertambah sehingga dapat mendukung aktivitas perdagangan dan ekspor dari Sulawesi Tengah.
“Ini bisa kita manfaatkan. Mudah-mudahan ekspor kita semakin mudah,” katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, Anwar meminta Badan Karantina Indonesia memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM, khususnya dalam memastikan produk yang akan diekspor memenuhi standar dan persyaratan negara tujuan.
Ia menekankan bahwa kemudahan akses ekspor harus dibarengi dengan peningkatan kualitas serta pemenuhan standar produk.
“Peran Kepala Barantin sangat penting untuk memberikan kita begitu banyak kemudahan, tetapi tentu tetap selektif agar UMKM ini bisa semakin mendunia,” ujarnya.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan dukungannya terhadap gerakan yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tersebut. Ia menilai kehadiran pemerintah di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten dan kota harus dapat dirasakan langsung oleh pelaku UMKM.
Menurut Maman, pemerintah perlu terus mencari terobosan agar semakin banyak UMKM memperoleh kesempatan untuk berkembang dan memperluas usahanya.
“UMKM di tanah air harus merasakan bahwa ada kehadiran pemerintah, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, dalam proses tumbuh kembangnya mereka,” ujar Maman.
Ia juga mengapresiasi peran Badan Karantina Indonesia dalam mendampingi pelaku usaha, sekaligus menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, kementerian, Badan Karantina, perbankan dan dunia usaha untuk membangun ekosistem ekspor.
Maman turut mengapresiasi langkah Anwar Hafid dalam mendorong pengembangan UMKM di Sulawesi Tengah. Menurutnya, berbagai program yang dijalankan pemerintah daerah menunjukkan perhatian terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding menegaskan bahwa pemenuhan standar karantina menjadi salah satu aspek penting agar produk daerah dapat diterima di pasar internasional.
Ia mencontohkan sarang burung walet dan durian sebagai komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dari Sulawesi Tengah.
Karding mengatakan pemenuhan standar sejak tahap awal diperlukan untuk mengurangi risiko penolakan produk ketika telah sampai di negara tujuan.
Karena itu, Badan Karantina Indonesia bersama pemerintah daerah dan kementerian terkait mendorong pembentukan Klinik Ekspor di Sulawesi Tengah.
Klinik tersebut nantinya menjadi wadah pendampingan bagi pelaku UMKM terkait standar produk, akses pasar internasional, pembiayaan hingga kesiapan ekspor.
“Kita akan melatih bagaimana standar produk itu diterima di luar, bagaimana cara mengakses pasar global, dan bagaimana cara mengakses permodalan,” ujar Karding.
Program tersebut juga akan diarahkan untuk memetakan komoditas unggulan dari masing-masing kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Selain durian dan sarang burung walet, komoditas ikan, kelapa, kakao serta berbagai produk potensial lainnya akan diidentifikasi untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor.
Pendekatan berbasis potensi daerah tersebut diharapkan dapat membuat pengembangan ekspor lebih terarah, mulai dari produksi, standardisasi, pembiayaan, pengemasan, logistik hingga pemasaran.
Anwar Hafid menyambut baik rencana pembentukan Klinik Ekspor tersebut. Menurutnya, program itu dapat menjadi sarana untuk menghubungkan potensi komoditas di masing-masing daerah dengan kebutuhan pasar internasional.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kata Anwar, akan mendorong pengembangan komoditas berdasarkan keunggulan setiap kabupaten dan kota. Poso dan Parigi Moutong, misalnya, memiliki potensi durian, sementara daerah lainnya memiliki keunggulan pada komoditas kelapa, kakao, perikanan, sarang burung walet dan produk lainnya.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, perbankan serta lembaga terkait, pengembangan UMKM diharapkan dapat semakin terarah menuju pasar internasional.
“Kita mau Sulawesi Tengah ini terkenal. Bukan cuma di nasional, tapi di internasional,” tegas Anwar.
Deklarasi Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekspor di Sulawesi Tengah.
Melalui penguatan produksi, standardisasi, pembiayaan, pengemasan, logistik dan akses pasar, gerakan tersebut diarahkan untuk mendorong UMKM Sulawesi Tengah naik kelas sekaligus memperluas jangkauan produk lokal ke pasar global.
(Sumber:Biro Adpim|Editor:Suhirman S.Pd)






























