Fokus Rakyat – Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Belanda telah mengungkapkan hubungan yang menarik antara kondisi rambut seseorang dengan kemungkinan terkena penyakit jantung. Penelitian ini juga menyoroti peran penting hormon stres dalam mempengaruhi tidak hanya rambut, tetapi juga kuku dan kulit.
Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 6.000 sampel rambut dari pria dan wanita dewasa, para peneliti menganalisis tingkat hormon di rambut dan kulit kepala partisipan selama periode lima sampai tujuh tahun. Temuan mereka sangat mengejutkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hormon stres yang terkait dengan kondisi rambut dan kulit kepala dapat memprediksi risiko serangan jantung atau stroke pada seseorang. Peneliti mengidentifikasi peningkatan kadar hormon kortisol dan kortison sebagai faktor risiko yang signifikan untuk penyakit kardiovaskular.
Baca juga : Datu Wajar Lamarauna Dilantik, Begini Tanggapan Ketua DPRD dan Bupati Donggala
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara kortison rambut dan kadar kortisol dengan penyakit kardiovaskular tidaklah kuat pada individu berusia 57 tahun ke atas. Meskipun demikian, analisis rambut tetap memiliki potensi sebagai alat tes yang dapat membantu mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular.
Profesor Elisabeth van Rossum dari Pusat Medis Universitas Erasmus di Rotterdam, salah satu penulis studi ini, menyatakan harapannya bahwa analisis rambut dapat membantu dokter dalam mengembangkan pendekatan pengobatan baru di masa depan. Dengan menggunakan analisis rambut, dokter dapat lebih akurat menentukan individu yang berisiko tinggi terkena penyakit jantung dan merancang rencana pengobatan yang lebih efektif.
Para peneliti juga melihat potensi penggunaan penargetan efek hormon stres dalam tubuh sebagai metode baru dalam pengobatan di masa depan. Dengan memahami dan mengelola hormon stres dengan lebih baik, diharapkan pengobatan penyakit kardiovaskular dapat ditingkatkan dan dampaknya dapat diminimalkan.
Penemuan dari studi ini memberikan wawasan yang berharga tentang kaitan antara kondisi rambut dan kesehatan jantung. Analisis rambut dapat menjadi alat yang berguna dalam penanganan penyakit kardiovaskular di masa depan, membantu individu untuk mengambil tindakan pencegahan yang tepat dan memperoleh perawatan yang sesuai guna menjaga kesehatan jantung mereka.
Baca juga : Kasus Korupsi Bank Sulteng Semakin Memanas
Seperti dilansir dari laman Medicaldaily, Jumat (25/5/23), hormon stres pada rambut dan kulit kepala bisa memprediksi kemungkinan seseorang menderita serangan jantung atau stroke.
Sebagai bagian dari penelitian, para peneliti menganalisis data dari tingkat hormon di rambut dan kulit kepala pada lebih dari 6.000 sampel rambut yang diperoleh dari pria dan wanita dewasa.
Sampel rambut itu dianalisis dan ditindak lanjut selama lima sampai tujuh tahun. Hasilnya, ditemukan setidaknya 133 kejadian penyakit kardiovaskular selama masa studi.
Individu dengan peningkatan kadar hormon kortisol dan kortison berisiko dua kali lipat mengalami penyakit kardiovaskular. Tapi bagi yang berusia 57 tahun ke atas, tidak ada hubungan kuat antara kortison rambut dan kadar kortisol dengan penyakit kardiovaskular.
Baca juga : Pemusnahan Babuk, Kajari : Banyak Godaan, Perkara Inkrah Segera dilakukan Pemusnahan
Penulis studi dari Pusat Medis Universitas Erasmus di Rotterdam, Prof. Elisabeth van Rossum mengatakan, para peneliti berharap analisis rambut berpotensi berfungsi sebagai tes untuk membantu dokter dalam mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi penyakit kardiovaskular untuk menghasilkan pendekatan pengobatan baru di masa depan.
“Harapan kami adalah bahwa analisis rambut pada akhirnya terbukti bermanfaat sebagai tes yang dapat membantu dokter menentukan individu mana yang mungkin berisiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular,” jelas Elisabeth.
“Kemudian, mungkin di masa depan penargetan efek hormon stres dalam tubuh bisa menjadi metode baru target pengobatan,” lanjutnya.***



















