PALU — Harapan mendalam sekaligus penilaian kritis disampaikan oleh Moh. Dalil, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sekaligus Perwakilan Asrama Mahasiswa Parigi Moutong, menyusul pelantikan AKBP Putu Hendra Binangkari sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sulawesi Tengah yang baru. Baginya, pergantian pemimpin di posisi strategis ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan momentum yang dinanti untuk mengubah pola penegakan hukum yang selama ini dinilai hanya menyentuh pelaku di lapangan, sementara para pemodal besar tetap berjalan bebas.
“Semoga penilaian saya kepada Dirreskrimsus yang baru ini tidak salah. Viralnya nama beliau di media sosial saat menduduki jabatan baru ini tentu bukanlah kebetulan. Saya melihat beliau memiliki tambahan kekuatan dari rekan-rekan media. Justru dengan sinergitas dan kolaborasi itu sangatlah membantu jika saling berbagi informasi,” ungkap Moh. Dalil.
Perhatian luas yang melekat pada nama Dirreskrimsus yang baru sejak dilantik dinilai bukan hal yang kebetulan semata. Itu adalah cerminan harapan masyarakat sekaligus potensi kekuatan bersama antara penegak hukum dan media untuk saling melengkapi informasi yang selama ini tersembunyi.
“Kemudian dilihat dari kiprahnya pada saat menjabat jabatan-jabatan sebelumnya, tentu jenjang kariernya sudah tidak dapat diragukan lagi,” tambahnya.
Dari berbagai jabatan yang pernah diemban, rekam jejak AKBP Putu Hendra Binangkari dinilai telah teruji dan matang. Hal ini menjadi dasar kuat bagi masyarakat untuk menaruh harapan bahwa sejarah baru penegakan hukum yang lebih tegas dan menyeluruh akan tercipta di masa kepemimpinannya.
“Semoga sejarah baru akan terbuka di masa kepemimpinannya. Satu orang cukong yang bermain di belakang layar yang mampu diciduk itu menurut saya sama saja dengan 30% menyelamatkan bumi Parigi Moutong. Sebelumnya yang bisa kita lihat bersama memang ada penangkapan yang dilakukan, tapi yang ditangkap hanya para pekerja lapangan,” tegas Moh. Dalil.
Ia menyoroti pola yang terus berulang: setiap kali ada penindakan, yang diamankan selalu pelaksana di lapangan. Sementara para cukong yang belum tersentuh — pemodal, pengatur, dan pelindung di balik layar — tetap bergerak bebas tanpa terganggu. Padahal, menangkap satu bos besar akan jauh lebih berdampak besar bagi kelestarian alam dan keadilan masyarakat.
“Jika yang ditangkap hanya pekerja lapangan, besoknya bos besar tinggal mencari orang baru untuk melanjutkan operasi. Kerusakan tidak akan pernah berhenti. Harus ada keberanian untuk menyentuh mereka yang selama ini dianggap tak tersentuh,” imbuhnya.
“Semoga harapan kami dapat terwujud dengan adanya beliau yang akan lebih memaksimalkan dan memberi nilai tambah bagi masyarakat maupun bagi institusi kepolisian,” pungkas Moh. Dalil.
Secara keseluruhan, harapan masyarakat Parigi Moutong sederhana namun mendasar: agar kehadiran Dirreskrimsus yang baru bukan sekadar pergantian nama, melainkan membawa perubahan nyata — hukum ditegakkan sampai ke akar-akarnya, termasuk terhadap mereka yang selama ini belum tersentuh, sehingga keadilan dan kelestarian alam dapat terjaga bersama.
(Suhirman S.Pd)
