EKSAVATOR RAKSASA MASUK JANJA,KETIKA ALAM DIKORBANKAN, RAKYAT HANYA BISA MENONTON DAN TAKUT  

TOLI-TOLI — Sebuah video yang merekam pergerakan ekskavator raksasa yang diangkut melintas di kawasan pemukiman Janja, Sulawesi Tengah, kini menjadi bukti nyata bahwa roda perusakan alam telah berputar. Di balik judul sederhana “Masuk Alat Berat Tambang”, tersembunyi ketakutan mendalam warga: bahwa tanah tempat mereka bernaung selama puluhan tahun, kini terancam digali, dikuras, dan ditinggalkan tandus — sementara mereka hanya bisa berdiri menyaksikan, tak berdaya.

Video yang dibagikan Mhmmd Riandii dalam grup Tolitoli Bicara memperlihatkan ekskavator berwarna kuning mengkilap bermuatan di atas truk besar, melaju perlahan melewati jalan sempit yang diapit rumah warga dan pepohonan. Pemandangan itu mungkin biasa bagi pihak yang menjalankannya, namun bagi warga Janja, itu adalah pemandangan yang menegangkan — pertanda bahwa kawasan yang selama ini menjadi sumber kehidupan, akan segera berubah menjadi lubang besar yang tak akan pernah kembali seperti semula.

Komentar-komentar yang muncul di kolom balasan bukan sekadar keluhan biasa. Itu adalah suara hati masyarakat yang sudah lama menyaksikan bagaimana kekayaan alam diambil, namun penderitaan yang ditinggalkan justru menjadi milik warga setempat.

“Buat laporan ke Pak Gubernur. Merusak alam saja.” — Irma Ece

Kalimat singkat itu mengandung makna mendalam: warga tidak butuh pembangunan yang menghancurkan bumi tempat mereka tinggal. Mereka butuh pemimpin yang memprioritaskan kelangsungan hidup rakyat, bukan keuntungan segelintir pihak.

“Selamat datang orang kaya baru, selamat datang kehancuran lingkungan. Mereka dapat emasnya, kita dapat banjirnya.” — Merdeka Motor

Ini bukan sekadar peribahasa. Ini adalah kenyataan pahit yang sudah terjadi di banyak tempat. Hutan yang gundul, tanah yang longsor, sungai yang keruh, dan banjir yang datang setiap musim — itulah yang ditinggalkan setelah tambang selesai. Keuntungan dibawa pergi, kerusakan ditinggal untuk rakyat.

“Seharusnya kalau Pemda tidak dengar keluhannya masyarakat, harus bersatu. Masyarakat di sana usir alat itu.” — Afriadi Adi

Seruan ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah mulai diuji. Ketika aspirasi diabaikan, ketika dampak lingkungan diabaikan, maka warga merasa tidak punya pilihan lain selain berjuang sendiri — walau itu jalan yang berat dan berisiko.

“Kasihan petani dan masyarakat kecil. Harus mengadu sama siapa lagi? Kita hanya orang kecil, cuma bisa menonton.” — Hardiyan Saad & Maryam Iyam

Kalimat-kalimat ini adalah yang paling menyayat hati. Mereka menyadari bahwa mereka adalah pihak yang paling lemah dalam permainan besar ini. Mereka yang merawat tanah ini selama turun-temurun, justru menjadi pihak yang paling tidak berdaya ketika alat berat datang merampasnya. Tidak ada yang meminta pendapat mereka, tidak ada yang menjanjikan perlindungan — mereka hanya diberi tontonan: alat berat masuk, dan masa depan mereka perlahan hilang.

Pertanyaan yang kini menggantung di udara: Apakah aktivitas ini benar-benar memiliki izin yang lengkap? Apakah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah disusun dan disetujui dengan melibatkan masyarakat? Apakah ada jaminan bahwa sungai tidak akan tercemar, tanah tidak akan longsor, dan sumber air bersih tidak akan hilang? Dan yang paling penting — siapa yang akan bertanggung jawab ketika bencana datang menimpa warga?

Warga tidak menolak kemajuan. Mereka menolak kemajuan yang berjalan di atas penderitaan orang lain. Mereka menolak pembangunan yang memakan korban bumi dan rakyat demi keuntungan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Jika pemerintah daerah benar-benar berpihak pada rakyat, maka langkah pertama yang harus dilakukan bukan membiarkan alat berat masuk tanpa jawaban, melainkan berbicara dengan warga, mendengarkan ketakutan mereka, dan membuktikan bahwa alam tidak akan dikorbankan demi keuntungan sesaat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun pihak pengelola yang menjelaskan izin, tujuan, serta dampak aktivitas tersebut bagi masyarakat dan lingkungan di Janja.

 

Sumber: Video unggahan Mhmmd Riandii, grup Facebook Tolitoli Bicara, 8–9 September 2026.

Editor:Suhirman S.Pd

error: Content is protected !!
Exit mobile version