DONGGALA — Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan adanya kondisi bangunan bronjong pada kawasan Jembatan Sipi–Jono yang patut mendapat perhatian serius dari instansi teknis terkait.
Bangunan bronjong yang seharusnya menjadi salah satu bagian dari sistem perlindungan konstruksi jembatan dan pengamanan tebing, saat ini terlihat dipenuhi rerumputan dan tanaman liar.
Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa bangunan pelindung tersebut tidak mendapatkan pemeliharaan secara berkala.
Dari hasil pengamatan visual, sejumlah bagian bronjong tampak tertutup oleh pertumbuhan rumput liar.
BACA JUGA : Retakan Memanjang Muncul di Sejumlah Titik Oprit Jembatan Perlu Diperiksa, PPK Akui Retakan Masih Normal
Vegetasi yang tumbuh di sekitar maupun di antara susunan bronjong berpotensi membuat kondisi konstruksi sulit dipantau secara kasatmata, terutama untuk mengetahui apakah terdapat perubahan posisi batu, kerusakan kawat bronjong, erosi, maupun kondisi lainnya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Ir. Faidul Keteng, ST., M.Si., MT., IPU, dimintai tanggapan terkait dengan dua paket pembangunan jembatan Sipi – Jono di kabupaten Donggala.
BACA JUGA : Oprit Jembatan Dikeluhkan Warga Belum Diaspal, PPK : Aspal Tak Ada Anggaranya
1. Nama Paket Pembangunan Jembatan Sementara Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Dongala Desa (Sipi – Jono), Volume Pekerjaan 120 Meter, Jenis Pengadaan Pekerjaan Konstruksi, Total Pagu Rp. 5.240.902.600 (Rp5,2 miliar), Metode Pemilihan E-Purchasing.
2. Nama Paket Penyediaan Rangka Baja Jembatan Sipi – Jono, Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Tahun Anggaran 2025, Lokasi Pekerjaan Kabupaten Dongala Desa Sipi – Jono, Volume Pekerjaan 120 Meter, Jenis Pengadaan Pekerjaan Konstruksi, Total Pagu Rp. 7.320.225.000 (Rp7,3 miliar), Metode Pemilihan E-Purchasing.
Adapun yang dikonfirmasi dimintai tanggapanya, terkait :
Diduga Tidak Mendapat Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan bangunan pelengkap jalan dan jembatan merupakan bagian penting untuk menjaga fungsi konstruksi tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, kondisi bronjong di lokasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pemeliharaan rutin telah dilakukan, termasuk pembersihan tanaman liar, pemeriksaan kondisi kawat bronjong, pengecekan kestabilan susunan batu, serta pemantauan terhadap potensi gerusan air dan erosi.
Rumput liar yang dibiarkan tumbuh dalam waktu lama bukan semata-mata persoalan estetika. Vegetasi yang terlalu lebat dapat menghambat pemeriksaan visual terhadap kondisi struktur dan menyulitkan identifikasi kerusakan sejak dini.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan teknis untuk memastikan apakah bangunan bronjong tersebut masih berfungsi secara optimal sebagai struktur perlindungan kawasan jembatan.
Pertanyaan untuk Instansi Terkait
Atas kondisi tersebut, terdapat sejumlah hal yang patut diklarifikasi kepada instansi teknis yang bertanggung jawab terhadap Jembatan Sipi–Jono, antara lain:
Kapan terakhir dilakukan pemeliharaan dan pembersihan bangunan bronjong?
– Apakah bangunan bronjong tersebut masih masuk dalam masa pemeliharaan pekerjaan?
– Berapa nilai anggaran pekerjaan pembangunan atau rehabilitasi bronjong tersebut?
– Siapa pelaksana pekerjaan dan siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaannya?
– Apakah pernah dilakukan pemeriksaan kondisi bronjong setelah pekerjaan selesai?
– Apakah terdapat laporan atau dokumentasi hasil pemeriksaan dan pemeliharaan?
– Apakah kondisi rumput liar yang menutupi bronjong telah diketahui oleh instansi pengelola?
– Apakah terdapat rencana pembersihan dan pemeriksaan teknis terhadap bangunan tersebut?
Bukan Sekadar Persoalan Rumput
Kondisi bronjong yang dipenuhi rumput liar memang terlihat sederhana. Namun, dalam perspektif pengawasan infrastruktur, hal tersebut perlu dilihat lebih jauh.
Pemeliharaan bukan hanya dilakukan ketika konstruksi mengalami kerusakan. Pemeriksaan dan perawatan secara berkala justru diperlukan untuk mencegah kerusakan menjadi lebih besar dan menjaga umur layanan infrastruktur.
Terlebih, bangunan bronjong berada pada kawasan yang berkaitan dengan perlindungan struktur jembatan. Apabila terdapat gerusan, erosi atau pergeseran yang tidak terdeteksi sejak awal, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Kadis Faidul Keteng, kepada wartawan Kamis kemarin, meminta agar segera mengubungi PPK Syaiful menangani paket jembatan Sipi – Jono tersebut.
“Tolong bapak (wartawan,red) hubungi yaa pak Syaiful PPK, karena beliau yang lebih tahu,” ungkapnya.
Sementara itu, Syaiful, selaku PPK menangani jembatan di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Sulteng, mengatakan, pada paket perbaikan jembatan sementara Sipi – Jono ini memang ada pekerjaan bangunan bronjong dibawah jembatan tersebut.
Bahkan, kata dia, keberadaan bangunan bronjong itu untuk membantu tempat pekuburan warga yang sering dibanjiri air sungai.
“Jadi dengan adanya bronjong ini, maka air sungai sering meluap tidak lagi membanjir kuburan,” tegasnya.
Dia mengatakan, bangunan bronjong yang dipenuhi dengan rumput itu tidak bermasalah, asalkan bangunanya tidak rusak dan kondisinya ambruk.
“Jika bangunan bronjong dipenuhi rumput kami kira itu wajar saja dan tidak masalah. Karena bangunan bronjong itu masih berfungsi dengan baik,” tegasnya lagi. (REDAKSI/ATR)
