Pasangkayu – Rangka jembatan Wulai dikabarkan belum ada di lokasi pembangunan, dan material baja itu sedang dalam proses pengiriman.
Proses pengiriman rangka baja jembatan itu dibenarkan pihak dinas PUPR kabupaten Pasangkayu.
I Nyoman Sumerta S.T, M.PWP, saat dikonfirmasi redaksi media ini memberi tanggapan terkait pekerjaan jembatan Wulai tersebut.
Baca juga : Torki Turra Bertahan di NasDem
Dia mengatakan, tidak adanya pekerjaan di lokasi, karena menunggu material rangka baja.
“Karena material rangka jembatan yang terkirim dari pabrik terdapat kesalahan pabrikasi tidak sesuai ukuran,” ungkapnya melalui pesan whatsapp, belum lama ini.
Dia menjelaskan, sehingga tidak bisa dirakit yaitu ukuran cross girder sebanyak 3 bentang, dan balok diafragma 2 batang.
Baca juga : Misteri Perumahan Nelayan Pangiang Wajib Bayar Lokasi
“Sehingga material tersebut diretur/dikirim kembali ke pabrik di Cikarang, kabupaten Bekasi, untuk dilakukan repair perbaikan,” ungkapnya lagi.
Kata dia, kondisi rangka saat ini selesai perbaikan dan sementara dilakukan proses pengiriman dan dijadwalkan akhir bulan sampai di lokasi.
Baca juga : Ruas Kayu Agung Diputus Kontrak
Dia menambahkan, bobot pekerjaan bukan 50 persen, karena material rangka yang lain sudah ada di lokasi kecuali yang retur untuk perbaikan.
“Karena bobot untuk pemasangan rangka adalah sekitar 2,3 persen perbentang, dan pengecoran 1 bentang jembatan sekitar 1,7 persen,” terangnya.
Baca juga : TNI-Polri Kawal Seluruh Kebijakan di Papua
“Jadi kalau rangka bentang kedua telah sampai di lokasi, bobot pekerjaan akan mencapai 96 persen,” terangnya lagi.
Menurutnya, nanti jika material sudah tiba di lokasi akan diinformasikan kembali.
Selain itu, ia menjelaskan tiang pancang yang ada di tengah itu adalah tiang pancang untuk pengaman abotmen tengah/pear dan memang posisinya seperti itu.
Kemudian, untuk oprit yang ada di sebelah itu belum bisa dikerjakan karena menunggu backwall dicor.
“Sebab dikhawatirkan terjadi pergeseran ukuran gelegar 10 cm saja, kita akan lakukan pembongkaran (terjadi pada sisi abotmen yang di sebelah sudah selesai kemarin dibongkar karena gelegar bergeser 12 cm),” jelasnya.
Menurutnya lagi, sehingga metode yang ia ajukan adalah setelah rangka dirakit, baru dilakukan pengecoran backwall (pengaman gelegar).
Sedangkan untuk besi berkarat memang secara alamiah besi jika berada di ruang terbuka akan mengalami korosi, namun tidak sampai mengalami keropos.
“Karena nantinya sebelum pengecoran akan dilakukan pembersihan terhadap karatan besi tersebut,” pungkasnya.
I Nyoman Sumerta S.T, M.PWP, mengatakan sudah berpindah tugas dari kepala bidang bina marga ke bidang sumber daya air.
Namun, kata dia, tetap membantu menyelesaikan pekerjaan jembatan Wulai tersebut.
Nyoman menjelaskan bahwa pekerjaan jembatan Wulai diberikan tenggang waktu hingga 30 April 2022.
“Pekerjaan tetap dilanjutkan bang,” terangnya kepada media ini.
Sebelumnya diberitakan, pekerjaan jembatan Wulai, di kecamatan Bambalamotu, kabupaten Pasangkayu, senilai Rp14 miliar, anggaran 2022, dikabarkan berhenti ditengah jalan.
Proyek dengan nama paket penggantian jembatan trans Sulawesi – Ujung Baru – Wulai itu diduga mangkrak dan terbengkalai hingga saat ini.
Proyek dibangun gunakan APBD Pasangkayu 2022, dengan waktu pelaksanaan 185 hari, dimulai 25 Maret sampai Desember 2022.
Faktanya, pekerjaan jembatan Wulai belum rampung. Bahkan progress pekerjaan diprediksi belum capai 50 persen.
Proyek senilai Rp14 miliar ini, melekat di dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) kabupaten Pasangkayu.
Berdasarkan investigasi dari tim redaksi media ini, di lokasi pekerjaan desa wulai, bahwa proyek terhenti di tengah jalan.
Di lokasi tidak ditemukan adanya aktivitas pekerjaan.
Proyek juga disinyalir tidak selesai dikerjakan.
Progress pekerjaan pun diprediksi baru sekitar 50 persen, karena setengah bentangan rangka baja jembatan sudah dipasang, tetapi setengah bentangan rangka baja lagi masih kosong.
Sementara mobiler pengadaan rangka baja tidak dijumpai di lokasi.
Selain itu, oprit jembatan dari timbunan tanah atau urugan dibelakang abutmen, dari sisi sebelah sungai Wulai, belum rampung dibuat sepadat mungkin untuk menghindari penurunan.
Begitupun dengan pekerjaan abutmen jembatan, selimut tulang besian beton tampak masih menganga belum dilakukan pengecoran.
Bahkan tulang besian itu, tampak mulai karatan di lokasi.
Sebagian tiang pancang jembatan juga masih berdiri.
Padahal, tiang pancang sebagai struktur utama bangunan jembatan harus prioritas.
(*/Tim Redaksi)