PALU – Sosok Intje Ami kembali diangkat dalam ruang diskusi publik melalui forum bertajuk Ngaji Keperempuanan yang digelar komunitas Resonara di Kota Palu, Kamis malam (12/3/2026). Diskusi tersebut mengusung tema “Bedah Tokoh: Intje Ami Sosok Khadijah di Tanah Kaili”, sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang peran perempuan dalam sejarah Islam di Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Ketua PW Fatayat NU Sulawesi Tengah Dwi Pratiwi Lestari serta dosen UIN Datokarama Palu, Muhammad Sadig.
Dalam diskusi tersebut, peserta membedah kiprah Intje Ami yang dikenal sebagai istri dari pendiri Alkhairaat, yakni Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang akrab disebut Guru Tua.
Meski memiliki peran besar dalam perjalanan dakwah dan pendidikan Alkhairaat, sosoknya dinilai masih jarang dibahas dalam forum akademik maupun diskusi publik.
Moderator dalam pengantar diskusi menyampaikan bahwa selama ini tokoh perempuan dalam sejarah Islam yang sering dibicarakan adalah Khadijah, Aisyah, atau Fatimah.
Padahal di Tanah Kaili juga terdapat figur perempuan inspiratif yang memiliki kontribusi besar, yakni Intje Ami.
Ketua PW Fatayat NU Sulawesi Tengah, Dwi Pratiwi Lestari, menegaskan bahwa menghadirkan kembali kisah Intje Ami sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan referensi figur perempuan lokal yang inspiratif.
Menurutnya, Intje Ami bukan sekadar pendamping tokoh besar, tetapi juga sosok penggerak dalam sejarah dakwah dan pendidikan. Ia menilai peran Intje Ami memiliki kemiripan dengan Khadijah yang turut mendukung perjuangan Nabi Muhammad SAW.
“Dalam sejarah Islam, perempuan tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga subjek yang aktif dalam peradaban. Kita bisa melihat itu pada sosok Khadijah maupun Intje Ami yang berperan besar dalam mendukung dakwah dan pendidikan,” jelasnya.
Sementara itu, Muhammad Sadig menjelaskan bahwa Intje Ami juga memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya lembaga pendidikan Alkhairaat.
Ia bukan hanya memberikan dukungan moral kepada Guru Tua, tetapi juga dukungan ekonomi.
“Intje Ami dikenal memiliki kekayaan yang kemudian digunakan untuk membantu perjuangan dakwah dan pendidikan Guru Tua. Bahkan sekolah pertama Alkhairaat berdiri di bawah rumah beliau di Kampung Baru,” ungkap Sadig.
Tak hanya itu, Sadig menyebut bahwa Intje Ami juga turut mempengaruhi pemikiran Guru Tua, terutama terkait pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Dari pandangan tersebut kemudian berkembang lembaga pendidikan Alkhairaat yang membuka ruang bagi perempuan untuk belajar.
Dalam forum itu juga disoroti bagaimana peran Intje Ami sering kali terpinggirkan dalam penulisan sejarah.
Hal tersebut dinilai dipengaruhi oleh dominasi narasi tokoh laki-laki serta minimnya tradisi penulisan sejarah lokal.
Sadig menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menelusuri sejarah agar kontribusi tokoh seperti Intje Ami tidak hilang atau terdistorsi oleh kepentingan tertentu.
Menariknya, dalam diskusi tersebut juga muncul gagasan agar Intje Ami dapat diusulkan sebagai tokoh pahlawan perempuan dari Sulawesi Tengah.
Menurut Sadig, peluang tersebut cukup besar jika didukung oleh gerakan kultural dan kajian akademik yang kuat.
“Kenapa tidak mengangkat Intje Ami sebagai pahlawan perempuan? Potensinya sangat besar jika tokoh perempuan dari daerah juga diperjuangkan,” ujarnya.
Melalui diskusi ini, para peserta berharap sosok Intje Ami semakin dikenal masyarakat luas, sekaligus menjadi inspirasi bagi perempuan untuk terus berperan aktif dalam pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial di Tanah Kaili. (LAPORAN; ARLIN)
