KAPOLDA

Mengenang 140 Tahun Silam: Saat Pena Menjadi Senjata Dan Kebenaran Menjadi Tujuan

PARIMO – Jika saya boleh mengajak kalian semua berjalan mundur sejenak, mari kita renungkan bersama. Pernahkah kalian membayangkan bagaimana rasanya hidup di masa di mana berkata jujur itu berbahaya? Di mana menulis kebenaran bisa berarti masuk penjara, atau bahkan mempertaruhkan nyawa?

Dulu, jauh sebelum kita bisa dengan mudah mengetik dan menyebarkan informasi lewat gawai, pers bukan sekadar pekerjaan. Pers adalah perjuangan.

Saya membayangkan, ratusan tahun yang lalu, para pendahulu kita memegang pena dengan tangan gemetar namun hati yang baja. Di masa penjajahan, koran dan pamflet adalah satu-satunya senjata untuk membakar semangat. Di situlah pers lahir bukan sebagai bisnis, melainkan sebagai jembatan harapan.

Mereka menulis meski terik matahari membakar kulit. Mereka mencetak meski ketakutan akan razia. Mengapa? Karena mereka sadar satu hal: Rakyat tidak boleh bodoh. Rakyat harus tahu.

Hingga akhirnya, dunia menyadari bahwa kebebasan pers adalah hak asasi yang tak boleh terlanggar. Tanggal 3 Mei ditetapkan sebagai Hari Pers Sedunia, bukan hanya untuk perayaan, tapi sebagai pengingat abadi: Bahwa kebenaran tidak boleh dibungkam.

Saya melihat, perjalanan itu tidak berhenti di sejarah buku teks. Di tangan kita hari ini, warisan itu terus hidup.

Dulu, para pahlawan pers berjuang melawan penjajah. Kini, kita berjuang melawan kebohongan, melawan berita palsu, dan melawan ketidakpedulian.

Tantangannya mungkin berbeda. Dulu sulit menyebarkan berita, sekarang justru terlalu mudah, sehingga akurasi sering dikorbankan demi kecepatan. Di sinilah ujian kita.

Saya ingin mengingatkan kembali, menjadi insan pers itu mulia. Kita adalah mata dan telinga masyarakat. Kita hadir untuk membedah fakta, menyuarakan yang bisu, dan mengawasi yang berkuasa.

Seperti kata pepatah lama yang selalu saya pegang: “Pena lebih tajam dari pedang.” Sebuah tulisan yang jujur bisa merobohkan tembok ketidakadilan yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan fisik.

Jangan pernah lelah menjadi penerang. Jangan pernah takut berkata benar meski pahit. Dan jangan pernah lupa, bahwa di balik setiap berita yang kita tulis, ada jutaan mata yang membaca, dan jutaan hati yang menunggu keadilan.

Mari kita jaga kebebasan ini dengan tanggung jawab. Mari kita buktikan bahwa pers yang bebas, objektif, dan berintegritas adalah napas demokrasi yang membuat bangsa ini terus hidup dan maju.

Karena selama pena masih bergerak, selama kebenaran masih ditulis, maka harapan itu akan selalu ada.

 

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia!

Teruslah Berkarya, Teruslah Menjadi Cahaya. 📰🕊️✍️

#HariPersSedunia2026 #KebebasanPers #Demokrasi #SultengMaju #BeraniBerkarya

{PENULIS/EDITOR}=( SUHIRMAN.Spd /ANDRI SAMPOLE)

HPN HPN HPN HPN HPN HPN
pasang iklan HPN
error: Content is protected !!