Donggala – Camat Banawa, Rustam, dengan tegas membantah klaim yang menyebutkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu penyumbang angka stunting tertinggi di Kabupaten Donggala.
Saat memberikan materi di kantor Kelurahan Maleni pekan lalu.
Rustam menegaskan bahwa wilayah Banawa justru menjadi contoh dalam penanganan stunting.
Ia menyatakan, dari lima desa di Loli hingga sembilan kelurahan lainnya, angka stunting telah menurun.
“Tidak benar data yang disampaikan pihak terkait. Masa dari 16 kecamatan di Donggala, Banawa disebut-sebut berada di urutan ketiga peningkatan stunting. Kami justru terus berupaya menurunkan angka tersebut,” tegas Rustam.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Donggala, Lasamudia, mengonfirmasi bahwa angka stunting secara keseluruhan di Donggala memang mengalami penurunan.
“Per Februari 2023, angka stunting se-Donggala turun dari 32,4% menjadi 19,6%,” ungkapnya.
Meski demikian, Lasamudia menjelaskan bahwa di Kecamatan Banawa, Kelurahan Gunung Bale masih menunjukkan angka stunting yang tinggi, yaitu mencapai 69%.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah tingginya angka pernikahan dini.
Lasamudia menambahkan bahwa stunting bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan, melainkan kondisi yang membutuhkan perubahan dalam pola asuh dan gizi sejak awal.
“Stunting bukan penyakit, jadi tidak bisa disembuhkan. Pencegahan dan pola asuh yang benar sejak dini adalah kunci untuk mengatasi masalah ini,” tuturnya.
Dengan adanya polemik data ini, pihak pemerintah di Kabupaten Donggala diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antarinstansi.
Agar data mengenai stunting dapat lebih akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.



















