Berita  

Wajah Sosok Di Belakang Layar Akhirnya Muncul: Harapan Besar Masyarakat Kepada Brigjen Pol Nasri Sulaiman

PARIGI MOUTONG – Pegunungan yang dulu hijau asri dan menyejukkan mata, kini berubah menjadi gundul dan gersang. Jejak kerusakan terlihat jelas di mana-mana, tanah longsor mengancam pemukiman, dan kekayaan alam terkikis habis tanpa henti. Di balik kehancuran yang terjadi di sejumlah titik wilayah Parigi Moutong ini, tersimpan sebuah kisah besar tentang kekuasaan dan kebebasan yang tak masuk akal. Selama bertahun-tahun, nama ini hanya dibisikkan, sosok yang dianggap tak tersentuh hukum, yang menggerakkan segalanya dari balik layar. Kini, setelah sekian lama menjadi teka-teki, wajah dan sosok asli di balik segala kehancuran itu akhirnya terungkap ke permukaan. Dialah Candra, aktor utama yang menjadi otak dari maraknya aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang merajalela.

Di tengah pemandangan memilukan itu, terlihat jelas gambaran nyata di lokasi: alat berat bergerak liar merobek perut bumi dan meratakan hutan, sementara di antara hiruk-pikuk kehancuran itu, berdiri sosok berbadan tegap mengenakan kemeja putih. Sikap tenang dan berwibawanya seolah menjadi simbol bahwa dirinya adalah penguasa di wilayah itu, bebas berbuat apa saja tanpa ada yang berani mengganggu.

Informasi yang berhasil dihimpun awak media ini menyebutkan, nama Candra bukanlah sosok sembarangan di dunia pertambangan tanpa izin se-Parigi Moutong. Ia dikenal sebagai salah satu pemodal utama yang memiliki kemampuan dan kecakapan tinggi dalam menjalankan aksinya, hingga namanya menjadi sangat tersohor di kalangan pelaku usaha ilegal tersebut.

Bukan hanya karena besarnya skala usaha yang dikelolanya, Candra juga kerap disebut-sebut sebagai sosok “raksasa” yang seolah kebal hukum. Dugaan ini menguat lantaran hingga saat ini, ia belum pernah sekalipun bersentuhan dengan aparat penegak hukum atau tersangkut kasus hukum, padahal jejak kerusakan akibat aktivitas yang dibiayainya sudah menyebar ke berbagai titik di kawasan pegunungan Parigi Moutong.

Kabar yang beredar dan menjadi keyakinan banyak pihak menyebutkan, posisi aman yang selalu ia dapatkan bukan tanpa alasan. Candra diduga memiliki perlindungan atau “tameng” yang sangat kuat yang bersumber dari lingkungan Kepolisian Republik Indonesia. Kekuatan inilah yang dinilai menjadi alasan mengapa ia bebas bergerak dan mengeruk kekayaan alam tanpa izin, meski kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya sangat terasa dan meresahkan masyarakat luas.

Berdasarkan data dan keterangan yang dikumpulkan awak media, Candra adalah tokoh utama di balik beroperasinya lokasi penambangan ilegal di Desa Alo’o, Kecamatan Ampibabo. Lokasi tersebut baru saja ditindak dan disisir oleh Satuan Tugas Penegakan Hukum beberapa hari lalu. Meski alat berat dan bukti aktivitas penambangan ditemukan di sana, sosok utama yang menggerakkan operasi tersebut luput dari jangkauan petugas.

Fakta bahwa ia masih bergerak bebas meski banyak wilayah hutan dan pegunungan di Parigi Moutong telah rusak parah akibat ulahnya, kini menjadi sorotan tajam sekaligus pekerjaan rumah besar bagi aparat penegak hukum, khususnya Polda Sulawesi Tengah yang baru saja berganti pucuk pimpinan.

Kini di bawah kepemimpinan Kapolda baru, Brigjen Pol Nasri Sulaiman, masyarakat menaruh harapan yang sangat besar. Warga berharap langkah dan kebijakan yang diambil nantinya mampu mengembalikan nama baik institusi kepolisian menjadi jauh lebih baik, bersih, dan berwibawa dibandingkan kondisi sebelumnya.

Masyarakat sangat mendukung jika aparat bertindak tegas dan tanpa pandang bulu, termasuk memburu serta menangkap sosok seperti Candra yang selama ini dianggap kebal hukum dan menjadi penyebab utama kerusakan parah lingkungan di Parigi Moutong. Publik ingin melihat adanya keadilan yang nyata, di mana setiap pelaku kejahatan, sekalipun memiliki kekuasaan atau perlindungan, dapat diadili dan bertanggung jawab atas segala kerugian yang telah ditimbulkannya kepada negara dan alam

error: Content is protected !!
Exit mobile version