PALU-Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Tadulako NambasO 20 Palu memberlalukan model pembimbingan inovatif, yang melibatkan dua lapis pembimbing, yakni wali asrama dan wali asuh.
“Wali asrama bertugas memastikan kondisi asrama berjalan dengan baik, sementara wali asuh mendampingi siswa secara personal untuk mengetahui perkembangan masing-masing,” kata Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Tadulako Nambaso 20 Palu Anita.
Hal itu disampaikan Anita dalam podcast kolaborasi Kantor Berita ANTARA Biro Sulawesi Tengah dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Sulteng, yang dikutip di Palu, Jumat.
Dia menjelaskan bahwa pembagian tugas antara wali asrama dan wali asuh, dirancang untuk memberikan pendampingan maksimal kepada setiap peserta didik.
Model itu terbukti efektif dalam membangun kedisiplinan dan semangat kebersamaan di antara siswa-siswa, yang berasal dari latar belakang ekonomi yang sulit.
Secara struktural, satu wali asuh bertanggung jawab atas 10 siswa dengan pertimbangan kesamaan gender. Kebijakan itu dirancang untuk membangun kepercayaan dan komunikasi yang lebih terbuka, antar siswa dan pembimbing mereka.
Aktivitas pembelajaran di SRT Palu berjalan intensif, dimulai dari pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA, dan dilanjutkan dengan kegiatan keasramaan di malam hari. Selain itu, dilakukan kegiatan refleksi untuk mengukur sejauh mana pembelajaran, dan pengalaman siswa dalam satu hari penuh.
Menurut dia, tantangan awal yang dihadapi cukup signifikan. Dimana, masih ada siswa yang diterima di SRT Palu, adalah mereka yang terbiasa hidup dalam lingkungan kurang terstruktur atau bahkan siswa yang pernah putus sekolah.
“Anak-anak ini membutuhkan penyesuaian dengan tata tertib dan kedisiplinan yang dibangun di sekolah rakyat,” jelasnya.
Namun, melalui pendekatan yang konsisten dan penuh kasih, siswa-siswa tersebut secara bertahap mulai memahami bahwa aturan dan disiplin bukan sesuatu yang mengekang mereka, melainkan upaya membangun karakter yang kuat.
“Lambat laun anak-anak mengerti bahwa kedisiplinan dan kebersamaan, adalah fondasi untuk membangun masa depan mereka yang lebih baik,” katanya.























