Palu – Proyek pembangunan Hunian Tetap (Huntap) Tondo 2 di Kota Palu kembali menjadi perhatian publik.
Proyek berskala nasional dengan nilai Rp166 miliar, yang digarap oleh PT. Bumi Karsa melalui dana APBN Tahun Anggaran 2022.
Kini menuai kritik tajam akibat berbagai kerusakan infrastruktur yang ditemukan di lapangan.
Pantauan wartawan FokusRakyat.net bersama LSM Nusantara Corruption Watch (NCW) Sulteng, menemukan sejumlah titik bangunan yang kondisinya memprihatinkan.
Mulai dari talud jalan yang retak, paving block amblas, hingga kolam taman yang bau dan dipenuhi jamur.
Padahal proyek ini baru selesai dibangun pada akhir November 2024 dan kini masih dalam masa pemeliharaan satu tahun.
Baskoro Elmiawan, S.T, selaku Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Provinsi Sulawesi Tengah, saat dihubungi wartawan media ini, Rabu kemarin, 16 April 2025.
Terkait pelaksanaan proyek Pembangunan Infrastruktur Permukiman Kawasan Tondo 2, Kota Palu, yang merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Sulawesi Tengah.
Proyek ini bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2022 dengan nilai anggaran sebesar Rp166 miliar dan dilaksanakan oleh penyedia jasa PT. Bumi Karsa yang beralamat di Wisma Kalla Lt. 11, Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 8, Makassar, Sulawesi Selatan.
Beberapa hal yang ingin kami klarifikasi dan diskusikan antara lain:
1. Kondisi Talud Jalan
Kami menemukan bahwa sejumlah titik pada bangunan talud jalan mengalami kerusakan serius.
Salah satunya berada di sisi kiri Huntap Tondo 2, tepatnya di belakang bangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Kerusakan tersebut berupa retakan memanjang hingga ke bagian bawah talud.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan keberlangsungan fungsi talud sebagai penahan tebing dan tanah.
Mohon konfirmasi dari Bapak terkait metode kerja, pengawasan, dan langkah penanganan atas kondisi tersebut?
Metode kerja item pembangunan talud jalan ini dipertanyakan, karena sejumlah titik mengalami kerusakan fatal kuat dugaan dikerjakan dengan asal-asalan, mohon konfirmasinya?
Pada hasil pekerjaan item bangunan talud jalan proyek ini dipertanyakan.
Karena kami temukan mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Diantaranya, pada sisi sebelah kiri Huntap Tondo 2, tepatnya dibelakang bangunan taman RTH (Ruang Terbuka Hijau), juga ada bangunan beronjong memanjang dibawahnya untuk mengatur aliran sungai.
Disampingnya kami temukan sejumlah titik bangunan TALUD JALAN untuk penguatan tebing sebagai tembok yang bermanfaat menjaga kestabilan tanah dan lereng.
Akan tetapi kondisi talud jalan itu begitu memprihatinkan kondisinya rusak parah.
Dimana beberapa titik mengalami retakan memanjang dan ada juga mengangah hingga ke bagian Bawah bangunan talud jalan.
Sehingga dikhawatirkan kondisi bangunan akan semakin parah, jika tidak segera dibenahi.
Selain itu, ada juga beberapa titik lainya Talud jalan mengalami kerusakan serius, tepatnya di sisi kiri bangunan taman RTH.
Dimana kondisinya juga ikut memprihatinkan dengan kondisinya mengalami retakan memanjang, yang dikawatirkan semakin parah jika tidak segera diperbaiki.
2. Pemasangan Paving Block
Pada area depan bangunan Taman RTH Huntap Tondo 2, kami mendapati kondisi paving block mengalami kerusakan cukup parah.
Diantaranya ambles, berlubang, dan terkesan dikerjakan dengan metode yang kurang tepat.
Padahal, proyek ini terhitung masih baru diselesaikan dan diduga masih dalam masa pemeliharaan.
Kami mohon penjelasan terkait metode kerja serta mekanisme pengawasan pelaksanaan item pekerjaan ini?
Metode kerja item pemasangan paving block pada proyek ini dipertanyakan karena kondisinya ambruk hingga berlobang di beberapa titik.
Sehingga kuat dugaan metode kerjanya diduga asal jadi atau amburadul dengan kondisi pekerjaan telah mengalami kerusakan padahal belum lama rampung, mohon konfirmasinya?
Terkait hal ini pada hasil pekerjaan pemasangan paving block kami temukan sejumlah kerusakan depan bangunan Taman RTH Huntap Tondo 2.
Dimana kondisinya begitu memprihatinkan dimana hasil pekerjaan ambruk dengan berlubang-lubang, ada juga yang runtuh, dan juga amblas diduga kuat metode kerjanya asal jadi saja.
3. Bangunan Taman RTH
Kami juga menemukan kerusakan berupa retakan memanjang pada beberapa bagian bangunan Taman RTH.
Selain itu, kondisi kolam air di area tersebut sangat memprihatinkan, berbau tidak sedap, air tampak kotor dan berjamur, yang dikhawatirkan berdampak pada kesehatan pengunjung.
Mohon konfirmasi dan tanggapan dari pihak BPPW mengenai hal ini?
Metode kerja bangunan taman Ruang Terbuka Hijau (RTH) juga dipertanyakan karena mengalami kerusakan dengan mengalami retakan memanjang pada beberapa titik.
Selain itu, air kolam kini beraroma busuk juga menjadi sorotan.
Dimana air kolam telah berubah menjadi air payau, kotor, dan dipenuhi jamur sehingga diklaim tidak sehat bagi para pengunjung. Mohon konfirmasinya?
4. Bangunan Trotoar dan Aspal Jalan
Kami mencatat bahwa bangunan trotoar mengalami kerusakan berupa ambruk di beberapa titik.
Selain itu, kondisi aspal jalan juga mengalami keretakan memanjang.
Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kualitas dan mutu pekerjaan tidak sesuai harapan dan standar teknis yang ditetapkan.
Kondisi bangunan trotoar ambruk dan aspal jalan retak-retak diduga mutu kualitas hasil pekerjaan tidak bagus, mohon konfirmasinya?
Dimana kami temukan hasil pekerjaan bangunan trotoar itu mengalami kerusakan serius dengan ambruk.
Olehnya metode pekerjaannya diduga amburadul mengingat proyek ini masih dalam masa pemeliharaan.
Selain itu, juga aspal jalan kami temukan mengalami kerusakan serius dengan retakan memanjang, juga kondisinya begitu memprihatinkan.
Olehnya kami menduga ada kerugian negara terkait mutu kualitas proyek tersebut.
Kami harap Bapak dapat memberikan penjelasan terkait mutu pelaksanaan, dan apakah kerusakan tersebut akan diperbaiki dalam masa pemeliharaan.
Baskoro Elmiawan, S.T., Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Provinsi Sulawesi Tengah, saat dihubungi wartawan media ini, Rabu kemarin, 16 April 2025, belum memberikan tanggapan.
Begitu juga dengan Aswan, selaku PPK Infratruktur yang menangani proyek ini, juga dikonfirmai wartawan media ini, belum memberikan tanggapan.
Sementara itu, Jafar, selaku pihak penyedia jasa kontraktor pelaksana dari PT. Bumi Karsa, kepada wartawan media ini, memberikan tanggapan akan segera memperbaiki sejumlah kerusakan tersebut.
“Informasi data-data kerusakan sudah ada dengan kami juga, maka akan kami benahi sejumlah kerusakan itu,” ungkap Jafar ditemui wartawan media ini, di salah satu cafe di Kota Palu, Rabu malam.
Dia mengatakan, saat ini sejumlah tenaga kerja dari pihak penyedia jasa memang masih standby di lokasi pekerjaan, akan tetapi karena masih suasana lebaran, sehingga pekerja Sebagian masih mudik atau pulang kampung.
“Kami akan benahi semua kerusakan itu dinda, Insyaallah kami kabari lagi nanti,” ungkapnya lagi.
Dia menambahkan, setelah masa pekerjaan berakhir November 2024 lalu, maka saat ini memasuki masa pemeliharaan selama setahun, sehingga sejumlah kerusakan itu wajib dilakukan.
“Masa pemeliharaan sampai Bulan November 2025 dinda,” terangnya.
Menurutnya, terkait air kolam itu diakuinya secara teknis mempunyai beberapa lubang diatasnya, maka air kolam dengan sendirinya akan mengalir jika telah penuh.
“Memang konsepnya seperti itu air kolamnya nanti kalau hujan airnya penuh dalam kolam, maka akan mengalir lewat lubang-lubang diatas kolam itu,” pungkasnya.
