Tembok Sungai Paneki Retak Disebut Akibat Akses Alat Berat Mengeruk Sedimen

Pelaksana : Excavator Naik dan Turun Lewat Jalur Kena Retak itu. Karena Mau Lewat Mana Lagi?

SUNGAI PANEKI 2
FOTO : Pembangunan tembok pengendali sungai paneki (Chanel Work) sepanjang 3 Kilometer.

SIGI, FOKUS RAKYAT — Pekerjaan tembok pengendali air pada badan Sungai Paneki, kini kondisinya saat ini sudah alami keretakan struktural di beberapa titik.

Keretakan itu akibat dari penggunaan alat berat Excavator perusahaan.

 

Dijadikan akses keluar dan masuk alat berat saat melakukan pengerukan pecahan material sedimen di permukaan sungai Paneki itu sendiri.

Demikian disampaikan Hendra B. Wentinusa selaku kontraktor pelaksana, kepada Redaksi FOKUS RAKYAT, di salah satu warkop di Kota Palu, Sabtu kemarin, 2 April 2022.

pt. meriba 2
FOTO : Hendra B. Wentinusa

“Excavator naik dan turun lewat jalur yang kena retak itu bang (wartawan,red). Karena mau lewat mana lagi? Sisa lewat jalur di situ alat berat melakukan pengerukan sedimen di dasar Sungai Paneki,”ungkap Hendra.

Selain itu, kata dia, jalur kena retak itu dibuat untuk akses kendaraan gerobak. Karena dijadikan warga sekitar sebagai tempat memandikan ternak sapi gerobaknya.

“Tempat mandi hewan (Sapi) bang di situ. Sisi kiri dan kanan tembok bisa naik dan turun ke dasar sungai,”ungkapnya lagi.

SUNGAI PANEKI 1
FOTO : Proyek Rp48 Milyar di Badan Sungai Paneki.

Dia menegaskan bahwa kondisi tembok mengalami keretakan itu segera diperbaiki.

“Kami sudah perintahkan pekerja segera memperbaiki kena retak itu, ya, paling lambat Senin (Besok,red) sudah dikerjakan,”tegasnya lagi sambil memperlihatkan isi pesan WhatsAppnya kepada kepala tukang bertanggungjawab memperbaiki kerusakan kena retak itu.

Dia menjelaskan, proyek tembok pengendali air di sungai paneki diakui belum memasuki tahap PHO alias serah terima pekerjaan 100 persen dari pelaksana ke pengguna jasa.

“Semoga ya cepat PHO, karena untuk pekerjaan struktur utama bangunan sudah rampung,”pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi lll, saat ini telah memfokuskan pembangunan Perbaikan dan pengendali sedimen di badan Sungai Paneki.

Dengan output pekerjaan meliputi Chanel Work sepanjang 3.380 meter, 1 bangunan Consolidation Dam serta normalisasi dengan melakukan pengerukan material sedimen pada dasar sungai.

Akibat adanya limpasan sedimen dari hulu Sungai Paneki saat terjadinya bencana banjir pada tahun 2019 lalu.

Proyek yang akan menunjang pertumbuhan ekonomi pedesaan diantaranya penunjang infrastuktur.
Namun sayang, niat baik pemerintah tidaklah sesuai yang diharapkan.

Diantaranya pembangunan tembok pengendali sungai (Chanel Work) sepanjang 3 Kilometer lebih tersebut masih dalam proses pengerjaan alias belum rampung sangat terkesan asal jadi.

Sehingga hasilnya jauh dari standar, dan harapan padahal baru beberapa bulan selesai pengerjaannya.
Tentu hal ini mendapat sorotan dari masyarakat, Selasa kemarin, 29 Maret 2022.

Menurut keterangan warga yang tidak ingin namanya dipublikasikan, mengatakan pengerjaan tembok pengendali air yang belum rampung tersebut, kini kondisinya saat ini sudah alami keretakan struktural di beberapa titik.

Kata dia, tembok pengendali air sungai dengan Mutu K-175 tersebut seharusnya tidak demikian masa mutu beton gampang retak.

“Kalau pelaksanaan sesuai acuan Spek dan Rencena Anggaran Biaya (RAB) mungkin hasilnya tidak mengalami keretakan struktural seperti ini, karena ada perhitungan perbandingan dalam menentukan campuran dan bahan material yang digunakan tentu harus sesuai apabila dilaksanakan menyimpang hal ini dapat mengurangikan mutu dari bangunan tersebut otamatis umur bangunan tidak dapat bertahan lama, dan patut dipertanyakan,”ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap pelaksana pembangunan, Rekanan serta Pengawas dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi lll terkait harus mempertanggung jawabkan atas hal ini karena setiap anggaran pemeritah telah di atur dalam perundang undangan.

“Untuk pembangunan ini sebagai warga saya ucapkan terimakasih kepada Pemkab Kabupaten Sigi dan BWSS lll yang telah membangun dan memperhatikan infrastuktur di Desa kami, tapi mutunya jangan seperti ini,” ucapnya.

Dengan tegas beliau meminta kepada instansi terkait untuk segera turun dan audit proyek cor tembok beton, kepada Aparat Penegak Hukum (APH) dirinya berharap untuk memanggil dan memeriksa semua pihak terkait.

Jika terbukti proyek ini menimbulkan kerugian keuangan Negara, Proses sesuai peraturan dan Undang undang yang berlaku, guna membuat efek jera terhadap siapa saja yang mempermainkan keuangan Negara, pintanya.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Ir. Rangga ST, selaku PPK pantai dan sungai di BWSS Palu.
“Sudah ada coretan pilox itu pak bro, kami sudah inventaris beberapa kerusakan, nantinya diperbaiki pada saat pemeliharaan,”ungkapnya melalui WhatsAppnya, belum lama ini.(*/ATR)

Editor: Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PT. MEDIA FIRMANSYAH PERKASA - COPYRIGHT @ 2024
error: Content is protected !!